Mengingat Kematian

Bagaimana rasanya kematian itu? Rasanya harum kematianku makin terasa olehku . Kian hari kian mendekat. Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela kamarku tak bisa mengusir bau harum itu.

Tapi kenyataannya aku masih punya selembar nyawa. Aku masih bisa bernafas dengan paru-paru, masih bisa merasakan hembusan angin yang menerpa kulitku, dan masih bisa merasakan sejuknya aroma pagi ini.

Aku kembali mengingat kematian, saat aku terbujur kaku dan aku lihat tangis dari orang-orang yang aku sayangi dan pesta duka akan di gelar di rumahku. Aroma setanggi bunga mawar akan mengiringi kepergianku. Semua orang akan memandang tubuhku dengan pilu. Lalu mereka akan menanduku, mengantarku ke tempat pembaringanku yang terakhir. Tentu saja ke suatu tempat yang hanya berukuran 1 x 2 meter saja.

Sepanjang jalan aku hanya bisa mengenang masa-masa hidupku, saat yang indah bersama orang-orang yang aku sayangi. Semua berjalan mengiringi kepergianku dan ayat-ayat doa dilantunklan untukku. Dan setelah itu aku di masukkan ke pembaringan abadiku. Di situ aku akan ditinggalkan sendirian dalam dingin, sepi, sunyi, sempit, gelap dan pengap, apakah nanti ada cahaya yang bisa menerangiku?

Dan tibalah saatnya para belatung berpesta menyambut tubuhku dan tentuntya mereka akan menyisakan tulang belulangku saja. Tak akan ada lagi yang memuji hidungku yang mancung, tak ada lagi yang memuja alisku yang panjang dan tebal, tak ada lagi yang menginginkan mataku yang bulat bercahaya, takkan ada lagi bilang betapa lentik bulu mataku dan tak ada lagi yang tergila-gila dengan senyum manisku. Karena semua akan rusak, bakteri pengurai akan menguraikan tubuhku. Aku yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah. Semua yang ada pada diriku hanya pinjaman sementara, dan kecantikan itu tidaklah kekal.

Yang lebih melegakan pastilah tak akan ada lagi yang cemburu pada purnama yang selalu memandangku dari ketinggian itu, ketinggian yang meremukkan tulang belulangku. Tak ada lagi orang yang merasa tersakiti olehku, so bagi siapapun yang merasa pernah aku sakiti baik secara sengaja maupun tak sengaja mohon maafkanlah aku. Hanya ucapan itu yang bisa menolongku.

Terus bagaimana setelah aku dalam pembaringanku? Apakah para malaikat akan menyiksaku dalam ruang sempit itu? Bagaimana kalau tubuhku dihancurkan terus diutuhkan kembali dan dihancurkan kembali supaya aku bisa merasakan tersiksa. Atau tubuhku dilempar kedalam panas bara api neraka, lalu tubuhku meleleh kemudian diangkat lagi terus dilempar lagi. Tak bisa kubayangkan betapa sakitnya. Mungkin hanya satu yang bisa selamatkan aku yaitu amal kebaikanku. Sudahkah aku berbuat amal kebaikan?

Owwh…sakit sekali ternyata aku masih bisa merasakan sakitnya kakiku yang patah ini. Tanpa sadar aku tadi berusaha bangun mencoba untuk berdiri, aku masih punya selembar nyawa, dan nafasku masih terasa. Mengingat kematianku membuat air mataku terus mengalir. Aku masih diberi kesempatan bernafas adalah anugerah yang dikaruniakan Allah yang tak terhingga nilainya. Anugerah ini juga tidak diberikan kepadaku saja, tapi diberikan kepada semua orang secara adil tanpa membedakan agama, negara, bahasa, dan budaya.Dan setiap orang hanya diberikan selembar nyawa saja.

Kita harus menjaga dan memanfaatkan nyawa kita ini dengan sebaik-baiknya. Karena betapa besar arti sebuah nyawa bagi kita. Bagaimana seorang ibu yang berjuang mati-matian melahirkan kita demi nyawa kita. Seorang ayah juga bekerja banting tulang agar kita bisa tetap hidup.

Dengan mengingat kematian aku bisa menabung amal kebaikan, dan akan berusaha berbuat baik sepanjang hari karena hanya dengan itu kita bisa mempersiapkan diri kita untuk bekal hidup kita yang abadi. Ku ingat betapa aku sudah banyak berbuat dosa yang tak terhingga jumlahnya.Tak akan aku sia-siakan kesempatan ini. Oh Allah ampunilah dosa-dosa dari hambamu yang hina ini. Semoga aku bisa menemui kematianku dengan indah.

This entry was posted in Kehidupan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

32 Responses to Mengingat Kematian

  1. YUI Loyalist says:

    Hohoho mari mati bersama, tapi jangan dalam waktu dekat ini ya… nie aku dah susah2 kuliah masa matinya cepet banget hehehehe

  2. redesya says:

    hahaha….

    kamu harus tetap hidup….
    Selesaikan kuliah dengan baik ya….

  3. rismaka says:

    Akankah kematian itu indah? Sementara kita belumlah mempersiapkannya.
    *kok jd melow gini yah..๐Ÿ˜ฆ

  4. redesya says:

    Iya kak…
    mulai sekarang kita harus banyak menabung kebaikan, agar menemui kematian yang indah…

  5. Arigato gozaimasu, udah di ingatkan..
    kehidupan setelah kematian adalah perjalanan yang panjang, buktinya sampai sekarang belum ada yang berhasil kembali..

  6. YUI Loyalist says:

    –mas muchlas di atas–, iya nih kayaknya sih juga gitu… aku mikirnya juga gitu, habis mati ku gak yakin apa yang akan kita lakukan sampai kiamat nanti

  7. Hilman says:

    waduh jeng..jadi merinding nih…semoga kita bahagia di sini dan di sana kelak…amiinnn

  8. Baca tulisan ini, kok saya jadi mikir klo kamu habis kecelakaan. Apa bener? ๐Ÿ˜ฆ

    Seperti kata Nabi Muhammad SAW, nasihat manusia itu ada dua. Yang satu bisa berbicara dan yang lainnya diam. Yang berbicara itu adala Al Quran, dan yang diam adalah maut.

    Tulisan yang bagus. Cocok buat orang kaya saya ini, yang kadang2 lupa kalo hidup harus dipertanggungjawabankan.

  9. Raffaell says:

    Ketika orang mengingat kematian, seketika mereka ingat tuhan… dan kebesaranya, dan bersyukur atas nikmatnya…

    Tak berapa lama… dunia kembali mereka mereka yang telah dibukakan matanya…..

  10. Kapanpun kita mati, kita harus siap.
    Karena kematian tidak akan pernah kita duga…
    Bisa tahun depan, bulan depan, besok, atau bahkan beberapa menit lagi.

  11. faisaljamil says:

    saatnya nanti kita mati..
    apakah orang disekitar kita tertawa atau mengangis?
    perbuatan kita lah yang akan menjawabnya..

    salam kenal ya mba..
    faisaljamil.wordpress.com

  12. depz says:

    cintailah hidup sebelum sang kematian hadir

  13. Tuyi says:

    Qulu nafsyin dzaiqotul maut..
    Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian..

  14. septarius says:

    kematian hanya sebuah simbol saja
    ngutip kata-kata seorang teman di blog saya.
    ๐Ÿ™‚

  15. Semua dari kita sedang dan akan menempuh perjalanan ke sana.

    Yang membedakan kematian satu individu dengan individu lainnya hanyalah: bagaimana seseorang menempuh perjalanan tersebut.

    Sederhana. Tapi membuat perbedaan yang signifikan.

    Tulisanmu bagus, Radesya.

  16. redesya says:

    @Prasetyo Muchlas

    Iya sih…
    Kalau ada yang bisa kembali mungkin kakak akan takut deh..

    @YUI Loyalist

    Kalau nggak tau, aku juga nggak tau…

    @Hilman

    Iya kak, semoga saja
    Aminnn…

    @agungfirmansyah

    Iya kak…

    bener sekali…
    hidup memang harus dipertanggungjawabkan
    Thx..

    @Rafaell

    iya..Kita harus selau bersyukur atas nikmatnya

    @ghani arasyid

    ande waktuku tiba saat inipun aku sudah siap koq, cuma saja mungkin bekalku belum cukup..

    @faisaljamil

    @depz

    Kucinta hidup koq…

    @Muda Bentara

    Yup, betul sekali

    @Tuyi

    Betul sekali pak…

    @septarius

    simbol kematian adalah berhentinya detak jantung kita…

    @Daniel Mahendra

    Iya, semua orang sedang menempuh perjalanan ke sana..

    Thx…

  17. bayu200687 says:

    kematian..kapan kita menemui kematian? tak pernah mungkin. yang kita jalani adalah hidup, dan kelak, kehidupan pula. jadi kapan kematian akan kita jumpai?
    sama seperti esok. kita tak pernah menjumpai esok. yang kita jumpai adalah hari ini. apakah kematian adalah esok? ah…entahlah…mungkin esok adalah kematian…

    mengingat kematian…mengingat apa yang kita lakukan selama hidup…

  18. maskoko says:

    Lebih baik berfikir berbuat amal sebanyak2nya …๐Ÿ™‚

  19. menuju ke kehidupan lain….kehidupan yang entah…..

  20. Bang Kumis says:

    kata orang sih…

    mati itu menyenangkan…

    buktinya setelah orang itu mati…

    mereka gak mo kembali ke dunia lagi…

  21. ghani says:

    amal dan kebaikn itu bukan tanggung jawab bersama melainkan tanggung jawab sendiri…

    semoga kita diberi umur panjang.
    amin.

  22. redesya says:

    @bayu200687

    iya kak, siapa tau esok adalah kematian bagiku…

    @maskoko

    betul sekali mas…

    @esha di biru langit

    kehidupan yang tak seperti disini…

    @Bang Kumis

    nah itu, kalau mereka kembali apa kakak nggak takut?

    @ghani

    Iya ghan…
    Betul sekali…

    Amin….

  23. kodokijo says:

    Kalo ingat mati rasanya pengin nagis, dengkul lemes jantung deg-degan. Ini berarti kematian saya anggap sebagai suatu takdir yang mengerikan. Yah mending ngaku beginilah daripada sok pede๐Ÿ™‚

    -Setiaji-
    http://www.kodokijo.net

  24. rismaka says:

    Mati….idup….mati…..idup….mati….idup…..Eh ternyata idup.
    (ngitung suara tokek)

  25. zulham says:

    Nyantai aja, mati itu pasti akan tiba waktunya…

  26. Hejis says:

    Banyak orang berani mati, tetapi tidak siap mati. Banyak orang siap mati, tetapi tidak siap hidup. Allah mewajibkan kita untuk siap hidup dan siap mati. Salam hangat๐Ÿ™‚

  27. redesya says:

    @rismaka

    kalau dibalik gimana
    idup…mati…idup…mati…idup…
    hehehehe….

    @zulham

    tentu saja

    @Hejis

    Iya pak, bener banget tuh…
    Salam hangat juga…

  28. Yg bener yang mana? Apa kamu bener habis kecelakaan?

  29. redesya says:

    iya kak habis jatoh, kaki aku retak gitu..
    tapi alhamdulillah udah baikan koq…

  30. renxe says:

    wah…kok serem banget tulisanmu ^^
    semua manusia suatu saat akan menghadapinya ra. jadi tak usah km bayangkan seperti itu ya. syukuri aja yg km miliki sekarang dan persiapkan bekal untuk menyambut ketika saat itu tiba..

    semoga cepet sembuh ya kaki nya

  31. redesya says:

    iya kak, kita siap-siap aja menyambut saat itu..

    Thx doanya ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s