Tentang Anak

Postingan kali ini adalah permintaan dari seorang teman FBR (fans berat radesya),😀 dia nanya ke aku “kenapa orang miskin itu dah tau susah tapi tetap bikin anak banyak-banyak”, baiklah akan aku bahas tentang itu. Anak merupakan anugerah terindah dari Tuhan bagi setiap makhluknya. Dan setiap orang yang sudah menikah pasti menginginkannya. Baik dia kaya maupun miskin dan Tuhan tidak membedakannya. Yang miskin maupun yang kaya sama-sama mendapatkan hak yang sama, karena anaklah yang akan menjadi generasi penerus bagi kita. Anak juga yang akan menjadi tumpuan hidup kita kelak di hari tua. Anak juga merupakan buah hati dari pasangan yang menjalin bahtera rumah tangga. Di sini orang tua mempunyai kewajiban untuk mendidik, mengasuh dan menjadikan anak sebagai manusia yang berguna, baik bagiorang tuanya,agamanya, dan juga bangsanya. Tapi kadang banyak orang tua yang sering memandang anaknya itu belum bisa berbuat apa-apa.

Kenapa orang yang dah tau miskin tapi tetap bikin anak banyak-banyak?, owh iya aku punya seorang teman dia dari keluarga yang boleh dibilang kurang mampu, dia anak ke tiga dari tujuh bersaudara, ayahnya hanya seorang buruh disebuah pabrik, dan ibunya hanyalah seorang tukang cuci saja. Tapi aku salut sama keluarga dia, karena keharmonisannya meskipun mereka sangat kesulitan ekonomi, diantara anggota keluarga bisa saling bantu. Mereka suka saling bercanda, ada ayah, ibu, kakak dan adik-adik yang lucu. Aku pernah bertanya pada Ibu kenapa mempunyai banyak anak? Ternyata mereka mempunyai pemikiran yang sangat sederhana, katanya “banyak anak banyak rejeki”, nah itu salah satu pimikiran zaman dahulu yang masih tetap tertanam dan sudah menjadi mitos di negri ini. Aku tanya lagi, “Apa tidak kerepotan dengan mengurus banyak anak? Ibu menjelaskan kalau mengurus anak saat masih kecil sih repot, dan kalau sudah besar juga repot biaya untuk sekolah, tapi seiring berjalannya waktu, mereka bisa mengatasinya, karena setiap anak membawa rejeki masing-masing. Dan Tuhan tentu sudah mengaturnya.

Jadi mengapa mereka sudah tau susah tapi masih bikin anak banyak-banyak? Jawabannya tentu sangat bervareasi. Ada yang sudah merencanakan untuk membatasi anak mereka dengan melaksanankan keluarga berencana tapi tidak berhasil. Ada yang merasa setiap anak adalah anugerah maka membiarkan mereka memiliki anak sesuai dengan yang Tuhan kasih, ada yang karena memang suka dengan banyak anak karena jika tua kelak memiliki banyak tumpuan hidup. Dan semua itu tentunya sudah menjadi kehendak-Nya, karena masih banyak yang tidak mendapatkan kesempatan tidak memiliki anak.

Beruntunglah mereka yang dianugerahi seorang anak, karena banyak yang tidak mendapatkan kesempatan itu. Ada orang yang kaya raya, memiliki segalanya, tapi sayang sekali karena tidak memiliki anak. Bahkan segala cara sudah diupayakan agar dapat memiliki anak, tapi sayang sekali belum bisa berhasil. Jadi bagi para orang tua janganlah sia-siakan anak anda. Dan bagi mereka yang belum mendapatkan kesempatan memiliki anak ada banyak cara yang bisa dilakukan. Lihatlah di sekeliling Anda banyak sekali anak-anak yang terlantar butuh bantuan Anda, tak ada salahnya jika Anda mengasuh salah satu diantara mereka. Hidup Anda tentu akan lebih indah karena bisa membantu sesama.

Janganlah kita sia-siakan apa yang telah di kasih Tuhan kepada kita

This entry was posted in Kehidupan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

30 Responses to Tentang Anak

  1. SAHABAT…………
    SENANG RASANYA BLUE PERNAH BERSAHABAT DENGANMU
    SALAM HANGAT SELALU

  2. geRrilyawan says:

    anak justru jadi kekuatan mereka untuk tetap bertahan hidup…apalagi dengan anggapan banyak anak banyak rezeki…

  3. Hejis says:

    Ya anak menjadi rejeki tersendiri bagi orang yang berkeluarga. Mungkin untuk keluarga yang kurang mampu secara ekonomi anak membebani, tetapi secara psikologis justru meringankan beban karena menjadi pelipur lara.

    Btw, saya ndaftar jadi FBR ya..he..he..
    Anak mbak Ra pasti sudah banyak dilihat dari tulisan ini…
    *lari sipat kuping…*

    • radesya says:

      Iya pak, setuju banget..
      Aku saja kalau pas lagi bt trus lihat anak kecil jadi hilang bt-nya, apalagi kalau dengar ketawanya, lucu banget! Jadi pengen punya adik, tapi nggak bisa😦

      mo daftar FBR? Hehehe, boleh pak…:D

      *lari sipat kaki*
      kwakakak…

  4. immoz says:

    meskipun gitu, anak tuh juga dieksploitasi bukan begitu? banyak tuh kan dijalanan. meskipun ortu mereka merasa punya hak tapi itu kan salah.

    oh ya, aku memilih tidak mempunyai anak. itu cuma akan membuat dunia tambah jelek karena anak itu adalah biang masalah di rumah tangga, sekolah dan masyarakat, menyusahkan ortu, belom lagi biaya hidupnya yang luar biasa, apalagi kalo dapat anak durhaka. meskipun anak itu bagaikan malaikat, ortu juga akan merasa bersalah melahirkannya ke dunia yang penuh derita, seakan ortu ingin mencari kawan menjalani dunia pesakitan ini. dan lagi ramalan jucelino, bagi mereka yang percaya, dunia setengah abad kedepan akan benar2 susah.

    • radesya says:

      Nah itu aku tidak setuju, ‘eksploitasi anak’ harus dihentikan!
      Tp tdk semua orang tua seperti itu kan? Banyak koq orang miskin yg mendidik anaknya dengan benar, di sini peran orang tua dan anak harus saling mendukung..

      Kalau memilih tdk punya anak, siapa yg akn meneruskan garis keturunan kamu? Gmn jika kamu tua kelak?
      Memang byk orang tua yg takut tdk bisa membahagiakan anak, karena letak kebahagiaan orang tua ada pada anaknya

      hidup memang sudah susah koq

  5. depz says:

    terus terang aku prnh punya pengalaman kayak gtu. bertemu dan bersahabat dengan seorang keluarga yang menurut aku ga bisa dibilang makmur. Bapaknya sakit-sakitan, ibunya hanya jualan pecel, sedangkan anaknya (kalo ga salah) 2 en masih kecil. Ehh udah gitu hamil lagi.
    Menurut aku, dengan berencana dengan memiliki anak, artinya mereka org tuanya harus siap dan bertanggung jawab atas kehidupan yang layak buat anak itu.
    Menurut aku ga bijak en ga adil aja kalo anak itu lahir ke dunia en dia tidak mendapatkan kehidupan yang pantas dan layak. Kasihan apabila dia dari bayi harus menderita karena orang tuanya tak mampu.
    *sorry panjang*
    hehhhee

  6. shofiyah says:

    ye shofi bilang ilang muncul lagi..,
    @immoz
    heheh apaan tuh namana trackficking yak?! (betul ga tuh tulisannya) klo si ibu pemahaman akan “karunia anak” nya itu kuat masak toh tega jual anaknya sendiri.., an pernah lihat tuh di malang depan kampus UB da anak kecil dijaketi ditinggal di jalan untuk ngamen.., dan yang anter malah ortunya sendiri pake motor bajunya perlente gitu.., heh kesel.., tapi si anak malah ga nyadar klo dirinya di “jual”.., malah seneng aja nyuanyi di jalan.., waktu an tanya ntar pulangnya gimana? de2knya bilang bakal dijemput jam 11 malam ntar.., What?!! sungguh teganya… kesel kesel kesel!!!

    lha malah curhat..

    @ dek desya
    suka baca buku dek..,?!!
    an punya beberapa PDF..,
    oh ya.., pernah baca bukuny dave peltzer (a child called it, the lost boy dan a man named dave), torey (Sheila, mandy)?! tapi yang an sebutin tadi an ga punya.., tuh bacaan dulu waktu masih on fire

    • ..... says:

      Adakah buku yang benar-benar mengajarkan islam yang sesungguhnya berdasarkan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum?

      Kasihanilah diri-diri kami yang masih sangat bodoh dalam memahami islam dengan benar, yang masih membutuhkan pengajaran dari sumber ilmu agama ini, dimana kami merasa cukup hanya berpegang dengan keduanya…di mana kami merasa cukup hanya dengan keduanya.

      Afwan…

  7. shofiyah says:

    masalahnya meter-muter itu aja kok sebenarnya.., cuz ga parsial tapi saling berhubungan.., antara pendidikan, ekonomi dan sosial..,
    dan solusinya menurutku cuma satu.., kembali kepada fitrah manusia sebagai manusia beragama.., dengan pemahaman yang benar!
    itu pendapatku..,

    kakak angkatan an aja cerita suaminya pernah cerita kapadanya (Halah) klo pulang kerja capaek lihat senyumnya istrinya, dan anaknya yang lucu itu kayak ilaaang semua capek2 urusan kerja tadi.., yang dimarahi bos, yang deadline.,

    So ayo cintai anak anda!
    stop Bullying!
    “Selamatkan dirimu dari api yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”
    hi sereeem

  8. septa says:

    ngomongin anak,
    siapa ya yang mau jadi ibu, calon anak-anakku🙂

    dave peltzer (a child called it) wew ngeri tuh buku

    buat shofiyah minta pdf :
    the lost boy dan a man named dave

    please🙂

  9. dendin says:

    anak adalah rejeki dari tuhan
    anaklah yang menghibur jika sepi…
    anaklah yang akan mencarikan obat dikala di sakit
    lalu siapa yang akan mengubur orang tua …ANAK…

  10. Shofiyah says:

    @septa
    ma’af coba bc lg.,
    kl yg tu an g punya
    Btw,Yg plg asyik tu bc yg the lost boyny.,kq da ibu yg kyk gt

    Bljr bk tu u dhndri

  11. itmam says:

    ikut jadi FBR aaaahhhh… sapa tau dapet hadiah jutaan rupiah… hiks..😉

  12. Shofiyah says:

    @…
    Jangan sedih ada kq!
    Kl mw bc dan cr.,
    Judulna tarbiayatul abna wrn kuning syaikh musthofa Media hidayah

  13. Shofiyah says:

    Itu menurut aku..,
    Msh da bnyk lg.dlht dr sudut pandang anti dlm mlht pnrbt buku (hati2)
    Aneh koment anti g klwr d hp kmrn

  14. Rindu says:

    anak adalah titipan, dan sebagai titipan suatu hari akan diminta balik oleh sang pemilik dan akan dimintai pertanggung jawaban bagaimana kita memperlakukan titipan ini ….

  15. Shofiyah says:

    Iyakah suka baca jg?nanti an krimi pdf k anti ya..,
    Luv u sist

  16. Dan kau sebagai anak, Desya, apa yang sudah kau persembahkan pada orang yang telah melahirkanmu…

  17. edratna says:

    Mitos banyak anak banyak rejeki ini yang harus dihilangkan.

    Mempunyai anak, mempunyai kewajiban untuk memberi perhatian dan memberi pendidikan sampai anak mampu mandiri. Orangtua tak boleh menganggap anak sebagai investasi, yang nantinya akan membahagiakan ortu dari sisi finansial, tapi harus dipahami bahwa anak tak minta dilahirkan, orangtualah yang menginginkan, jadi ortu bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup anak tsb. Sayangnya hal ini belum disadari oleh masyarakat kita, khususnya yang berpendidikan rendah dan miskin. Kawatirnya (seperti yg dikawatirkan oleh dokter kandungan)…di masa depan makin banyak warga negara Indonesia yang menurun kualitasnya atau kurang berpendidikan, karena hanya menganut paham banyak anak ini.

    • radesya says:

      bener banget apa yang ibu bilang, tapi bagi orang-orang tertentu mitos itu sulit dihilangkan…
      mungkin bagi orang yang sudah berpengalaman itu tidak sulit, tapi bagi orang yang tinggal di pedesaan itu sudah menjadi nasehat yang turun temurun katanya..

      semoga saja pendidikan anak menjadi prioritas utama bagi para orang tua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s