Cerpen:Lukisan Hati

Ini adalah cerpen aku yang kedua setelah ini, maaf jika kurang berkenan karena aku masih belajar, dan maaf kalau kurang bagus.

Hujan turun begitu deras malam ini, dan angin bertiup kencang mencampakkan daun-daun kering dan buah-buah mangga yang busuk dari tangkainya. Aku buka jendela kamarku, kubiarkan angin yang membawa buliran-buliran air hujan masuk ke dalam kamarkku. Kupandangi setiap tetesan hujan yang tercurah dari langit gelap di atas sana, untung saja tidak ada petir malam ini karena aku harus menutup telinga dan terlonjak kaget tiap kali gemuruh itu datang. Yah…, aku takut sekali sama petir, ada trauma yang kurasakan setiap kudengar gelegar suaranya.

Kudengarkan suara hujan, ada irama tertentu yang dibawanya, owh ternyata tidak tik-tik-tik seperti lagu yang sering aku nyanyikan diwaktu kecil. Suaranya ada yang nyaring saat menimpa sebuah benda. Ada yang pelan, ada yang penuh irama, dan suaranya berbeda-beda. Tapi ada yang menyeret lamunanku di setiap titik air hujan, aku kembali teringat padamu. Hari-hariku dipenuhi lamuanan akan dirimu. Entah apa yang terjadi, kamu sudah seperti merasuk dalam kepalaku. Bahkan isi dalam kepalaku hanya dirimu.

***

Engkau telah beri warna dalam hidupku, mungkin saat ini kamu sedang menertawakan aku. Karena aku begitu tolol , aku yang selalu menginginkanmu begitu rupa, sedang sesungguhnya kita tak begitu saling kenal. Aku hanya bisa berenang-renang dalam hayalanku tentang dirimu, bahkan kita tak pernah berbicara satu sama lain. Aku juga sudah lupa kapan pertama kali kita kenal. Hanyalah suaramu yang terngiang-ngiang dalam kendang telingaku. Dan seperti memanggil-manggil namaku. Dan aku sungguh tergila-gila dengan suara ketawamu. Dan aku selalu rindu dengan ketawamu itu.

Aku sungguh tergila-gila pada pemikiranmu yang selalu mencerahkan hatiku, kedewasaanmu yang telah menggantikan posisi ayahku. Kamu begitu sabar mendengar setiap keluhanku. Tapi kau tak pernah mau mengerti perasaanku, setiap saat hatiku berteriak karena sangat mengharapkanmu. Kau selalu bilang kalau aku masih kecil dan terlalu muda untukmu. Kau juga bilang kalau aku belum sepenuhnya mengerti tentang hidup. Memangnya kau telah mengerti semua tentang hidup? Kenapa kau selalu bilang kalau aku masih kecil, aku tidak suka kau bilang seperti itu padaku. Memang salah kalau aku masih muda? Bukan salahku kalau usiaku hampir separoh dari usiamu. Kalau saja aku boleh memilih, aku ingin dilahirkan setelah beberapa hari kamu lahir, agar kau tak lagi permasalahkan usiaku.

Kau tau semuanya tentang aku, bahkan setiap halaman demi halaman dari diriku kau tahu, karena kucurahkan semua yang ada dikepalaku padamu.

Masih kuingat saat itu, di pantai ketika mentari perlahan tergelincir, dan nyanyian bayu menyentuh nyiur, debur ombak menderu sesekali menghempas karang terjal kemudian menepi, burung-burung camar yang berterbangan pulang, aku terhanyut dalam pesona alam. Kemudian kau mengajakku berkejaran, oh betapa indahnya saat itu.

“gadis kecilku”, ucapmu padaku

“aku tidak suka kau masih anggap aku anak kecil” protesku saat itu.

“tapi kau masih kecil”

“tidak! Aku sudah bisa bersikap dewasa”

“tapi kenyataannya kau masih sangat muda”

“kenapa kau selalu bialang aku masih muda! muda! muda!”

“karena kau masih muda!”

Aku sungguh merasa kesal, aku pasang muka cemberut dan kau merayuku dan akhirnya bisa membuat aku tersenyum. Kita bersama hingga malam menjelang, kenapa waktu begitu cepat kulalui saat bersamamu.

Malam begitu indah, bulan brsinar penuh, cahayanya yang keperakan jatuh di wajah kita, sinar matamu yang hangat mampu mengusir dingin yang menyusup.

“gadis kecilku, tidurlah, bermimpilah yang indah” katamu sebelum kau meninggalkan aku di depan rumahku.

Tak kusangka itu adalah pertemuan kita yang terakhir, karena kenyataannya kau tak pernah datang menemui aku lagi. Hari-hariku suram dan sendu tanpamu. Aku hanya bisa melukiskan hatiku pada kanvasku. Semua perasaanku tertuang dalam setiap goresan kuasku. Ada rindu, kesal, sakit, marah, dendam,Yah…,itulah lukisan hatiku Kenapa kau tak lagi pedulikan aku? Apakah aku bisa melupakanmu? Menyedihkan! Aku tak akan mampu melupakanmu. Bagaimana aku bisa melupakanmu karena hanya kepadamu pertama kalinya aku berharap dan posisimu begitu penting di hatiku. Entah aku tak tau bagaimana caranya aku bisa melupakan kamu. Setiap hari diriku selalu tergadai dalam ingatan akan dirimu.

***

Hujan datang kembali karena gerimis –gerimis itu telah menderas, aku semakin kedinginan, kuhentikan goresan kuasku, kukenakan jaket wana hitam kesukaanmu, seharian aku berada dalam sudut ruangan ini untuk melukiskan serpihan hatiku. Ada dering bel yang membuyarkan semuanya. Seorang laki-laki muncul dari balik tirai gerimis yang menderas. Rambutnya masai dengan bercak-bercak air hujan, yang menetes di ujung-ujungnya.

“Maaf, apa benar ini rumah mbak Saga?” Tanya lelaki itu

“iya benar, ada apa ya?”

Ada undangan buat mbak” laki-laki itu mengulurkan sebuah kertas

bersampul merah muda padaku. Kemudian dia berlari menuju mobilnya dan lenyap ditelan derasnya air hujan.

Aku buka undangan itu dengan hati yang berdebar-debar kencang. Namamu terukir jelas di situ, aku terhuyung, ternyata kau telah temukan orang yang menjadi tambatan di hati kamu. Hatiku hancur saat itu. Mungkin saat ini kau telah bahagia, kau tak pikirkan betapa hatiku sangat sakit dan hancur. Lama sekali aku tercenung, tapi aku harus putuskan sekarang mesti dengan hati yang terluka. Dan keputusanku telah bulat aku akan berusaha melupakan kamu! Tapi ini sungguh sangat berat bagiku. Apakah aku bisa? Aku akan mencobanya meskipun rasanya itu tidak mungkin. Karena kamu begitu kuat bercokol dalam kepalaku.

***

Pagi ini hujan kembali turun menghiasi langit, air tercurah seperti tak akan pernah habis. Aku kembali menikmati setiap tetesan hujan dari balik jendela kamarku,kuciumi bau hujan yang mengembalikan kenanganku, dan hujan kali ini bunyinya lebih nyaring. Aku juga mendengar gemuruh pusaran air . Seorang lelaki muda datang padaku dengan langkah yang tergesa, dia membawa kabar bahwa kau telah berpulang, aku terkejut sekali, jantungku seperti berhenti, aku tak bisa menahan sedihku,dan hujan kali ini diiringi suara petir yang menggelegar, seperti hatiku yang sedang bergemuruh. Aku terlonjak dan menutup kendang telingaku, air mataku jatuh bersama setiap tetesan-tetesan hujan itu. Dan sebelum kau pergi kau sempat meninggalkan surat buat aku. Ternyata kau telah menikah dengan wanita yang salah, wanita yang telah kau pilih itu bukan wanita baik-baik. Kau sangat sedih setelah tau hal itu, dan kesedihan itu sudah seperti rawa-rawa yang menenggelamkan semangat hidupmu. Kau juga merasa bersalah karena telah meninggalkan aku. Kau begitu menyesal dan kau pendam deritamu sendirian hingga kau menemui akhirmu.

“jika cinta tak dapat mengembalikan engakau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang”

Kahlil Gibran

Radesya, 28 Desember 2008

This entry was posted in cerpen and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

27 Responses to Cerpen:Lukisan Hati

  1. aji says:

    hahaha dewasa sekali… bagus bagus hanya memang namanya cerpen ya? jadinya pendek, seakan tergesa-gesa…

  2. sahabatku………..
    mestinya blue di dekatmu dan memberikan salam penghormatan dan salam penghargaan padamu
    blue teramat bangga jika kreasimu selalu memberikan wacana yang indah untuk kita semua
    salam hangat selalu

  3. hanhan says:

    bagus mba aku saja belum bisa buat seperti itu hehehe
    sangat kreatif….

  4. 'Adi says:

    Adakah terinspirasi dari kisah pribadi mbak?

  5. itmam says:

    bagus ceritanya… kisah fiksi ya… aku sering menghayal kok ga bisa jadi cerpen ya….??!!!🙂

    wah…, kakak menghayal apa dulu?🙂

  6. bagus Cerpennya. Gaya Monolognya banyak. Ini yg lagi tren..

    thx Om…
    masih belajar koq..

  7. geRrilyawan says:

    bagus cerpennya. tapi terlalu pendek nih…..kasih beberapa paragraf lagi biar jadi cerpen apandik…

    cerita pendek agak panjang sedikit….
    tetap menulis…..

    thx ya, kapan-kapan aku bikin yang seperti itu deh..

  8. departa says:

    Wahhh cerpennya bagus banget,bahasa sangat dalem.:D
    Hujan memang bagus jadi inspirasi dari sebuah karya, karena ia begitu banyak torehkan cerita dan kenangan dalam hati kita.😀
    Cinta memang Tak selalu harus memiliki😀

    tapi aku masih belajar🙂
    iya bener, hujan bisa banyak memberi inspirasi, aku suka banget lihat hujan..

    cinta memang tak selalu memiliki

  9. tukyman says:

    rasakan bedanya disaat aku cuman mampir 10 menit dan membaca postinganmu, tapi semua itu untuk menamba kebersamaan sesama blogger kawan🙂

    thx ya…

    ada yang beda memang, aku jadi tambah kawan🙂

  10. frizzy says:

    Aku mampir memberi support pada blogmu yang oke ini…

    Cheers, frizzy2008.

    thx banget atas supportnya🙂

  11. taufik79 says:

    salam kenal, blog walking dulu ya

    salam kenal juga🙂

  12. Cengkunek says:

    wa, cerpenis nih
    udah banyak ya karyanya?
    nanti bisa bikin novel

    belum koq…
    masih belajar, pingin banget bikin novel, doakan ya🙂

  13. achoey says:

    indah
    aku terdampar dalam
    dalam

    thx kak…
    aku masih belajar 🙂

  14. masicang says:

    biasanya saya bosan baca cerpen. but…sepertinya saya ikuta kebawa ceritanya nih. jadi penasaran

    Thx ya, dah berkenan membaca…

  15. yakhanu says:

    ternyata ada bakat nulis cerpen yach..
    selamat rumah barunya yah…

    harus di edite nih link nya…

    selamat datang di rumah baruku kak..🙂

    maaf ya, masih berantakan
    aku masih belajar nulis nih…

    thx ya kak…

  16. septa says:

    maaf Ra belom bisa baca tulisannya semua, keqnya gak bisa speed reading.
    dari lubuk hati terdalam saya ucapkan terimakasih atas doa buat Bundaku

    iya sep…
    tidak apa-apa koq, terus apa Bunda udah sehat?

    aku tulus mendoakan Bunda koq, semoga lekas sembuh ya..
    kamu jangan sedih ya..

  17. bayu200687 says:

    [keprok-keprok]
    not a play..not a play…
    [bukan main…bukan main…]
    kisah pribadi Ra? ^_^

    *kritikus sastra mode : ON
    ceritanya cukup lugas..
    paragraf pertama menggantung. padahal sudah ada kalimat yg menyentuh relung keingintahuan, tapi malah tidak dilanjutakn

    Yah…, aku takut sekali sama petir, ada trauma yang kurasakan setiap kudengar gelegar suaranya.

    coba di explore lebih jauh…(maksa mode ON)

    endingnya terkesan maksa. Coba lebih diperdalam lagi…biar cerpen itu bisa berkisah sendiri…bukan merupakan corong a.k.a mikrofon dari penulisnya…

    *kritikus sastra mode : OFF

    jiah, copas dari mana tuh kritikan???😀😀😀

    hahaha, waduh!!, kak Rigih, ini bukan kisah pribadi aku koq, cuma hayalan, fiksi, tapi yang takut petir itu memang beneran aku..

    wah, thx banget atas kritikannya, itu sangat membantu aku, tapi kak Rigih juga lupa pada awal paragraf di atas, (maaf, kurang bagus, baru belajar)🙂

    iya Kak, aku akan coba bikin lagi, entar diajarin ya…

    *maksa mode : on off*

  18. radesya says:

    @ Omian

    thx ya…

    tadi tanpa sengaja komentnya kehapus🙂

  19. Denaya Lesa says:

    Ass.wr.wb,

    Salam kenal juga kak @radesya, makasih lho atas supportnya.

    Oh ya ini ada titipan dari papa Rohedi buat seluruh visitor di sini.

    http://rohedi.com/content/view/33/1/

    Ya barangkali berguna buat doa sebelum bikin Puisi

    Wass.
    Denaya.

    Alaykumsalam….

    thx ya, dah mo berkunjung kemari🙂
    salam buat Pak Rohedi ya…

  20. tukyman says:

    sudah ku coba ini itu, kesana kemari dan bosen akhirnya aku numpang parkir, mungkin ada yang baru🙂
    numpang baca ya …………

    silahkan..🙂

  21. sahabat…………….
    gimana sekarang?pasti masih ada posting baru kan?
    salam hangat selalu

    sahabat…

    tunggu ja posting berikutnya ya…

    salam hangat selalu juga🙂

  22. Ehem… Ehem…😉

    Sekali lagi ah:

    Ehem… Ehem…😀


    ah….😉

    du-du-du-du…

    ehem… ehem….

  23. watye says:

    q g’ nyangka buagus buanget!!!!
    q berhrap bakalan muncul kreaksi baru n nampilin yang lebih seru lagi.thankz yapz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s