Romantika Kehidupan

Dulu aku tinggal di sebuah kota hanya bersama kakakku. Kebetulan kakak lebih suka tinggal di sini. Depan rumah kami di tempati orang asing, beliau pelihara banyak kucing, kalau aku hitung lebih dari 10 ekor kucingnya. Aku suka juluki beliau Ibu kucing. Setiap hari kerjaannya cuma urus kucing-kucingnya. Kalau aku intip kucingnya lucu-lucu sekali, aku nggak berani mendekat, karena ibu kucing sangat galak. Pernah aku coba ingin pegang kucingnya malah dia marahi aku, tentu saja dengan bahasa yang nggak jelas. Tapi waktu beliau lagi baik aku boleh gendong kucingnya. Lucu banget kucingnya.Di sebelah ibu kucing di tempati orang asing juga, nah aku suka panggil tante clay, dan memiliki anak balita yang lucu namanya derick. Kalau lihat aku Derick selalu minta gendong gitu. Wah jadi kangen sama Derick. Sedang apa ya dia sekarang?

Di ujung gang di tempati sebuah keluarga yang sangat tertutup sekali. Jika lewat situ anak kecil tak akan berani, karena sering dengar suara teriakan dari pemilik rumah itu. Rumahnya tidak pernah kebuka sama sekali. Di dekat rumahnya itu ada lapangan basket, aku suka sekali basket di tempat itu. Kadang aku penasaran ingin sekedar mengintip ke dalam rumah itu, tapi aku juga tidak berani. Kalau aku lewat depan rumah itu aku suka berhenti lama sekali, siapa tau pemilik rumah itu membuka pintu, mungkin pemilik rumah itu akan mempersilahkan aku masuk ke dalam. Tapi mungkin itu cuma sebatas keinginan saja. Kenyataanya selama aku tinggal di tempat itu aku belum pernah bertemu dengan penghuninya.

Suatu hari saat aku mau berangkat ke sekolah di depan rumah itu terdengar teriakan yang sangat keras sekali. Teriakan seorang ibu-ibu dari dalam rumah. Suaranya menjerit-jerit dan menangis, kadang juga tertawa sangat keras. Waktu itu aku tidak menghiraukannya, aku lanjutakan saja perjalananku ke sekolah. Hingga waktu aku pulang sekolah seorang ibu itu keluar dari rumah sambil membawa pisau, dia mengacungkan pisaunya ke semua orang, dan semua orang yang melihat jadi lari dan menutup pintu rumah. aku juga merasa takut, tapi aku nggak mungkin lari, kayaknya ibu itu agak kurang sehat pikirannya. Dia bertanya padaku kenapa aku tidak ikut lari seperti yang lain. Aku hanya diam karena ada rasa takut juga jika pisau yang di pegangnya itu melukai aku atau melukai tangannya sendiri.. Aku berusaha membujuk ibu itu agar memberikan pisau itu padaku. Dan alhamdulillah usahaku berhasil, ibu itu mau memberikan pisau itu padaku. Lega rasanya hatiku saat itu,nggak tau juga kalau ibu itu tiba-tiba saja menusukkan pisau itu kearahku. Anehnya kenapa nggak ada orang yang berani ya, tapi memang di komplek aku jam segitu orang laki-laki dewasa belum pada pulang dari kantor, jadi yang ada tinggal anak-anak sama beberapa ibu rumah tangga saja.

Setelah kejadian itu ibu itu sering menyapa aku jika aku lewat depan rumahnya, dan kayaknya dia sengaja menunggu aku kalau aku lewat depan rumahnya. Dan pintu rumahnya tidak tertutup lagi. Dia sering senyum padaku dan aku selalu membalas senyumnya. Tapi kemudian sering aku lihat setelah aku tersenyum ibu itu tertawa terbahak-bahak gitu. Waktu aku pulang sekolah ibu itu marah-marah lagi sambil bawa pisau lagi, dan dia seperti biasa berteriak-teriak sambil mengacungkan pisaunya. Semua orang sangat ketakutan dan berlari , ternyata ibu itu justru menghampiri aku dan menangis, aku mencoba mendiamkan ibu itu. Dia sudah seperti bayi jika sedang menangis, aku harus bersikap seperti orang dewasa saat menghadapinya. Saat menangis aku juga merasa sangat sedih, mungkin ibu itu tidak kuat menghadapi cobaan yang mendera keluarganya.

Dari cerita yang aku dengar ternyata ibu itu dulu orang kaya raya, suamimya seorang kontraktor terkenal di kota kami, tapi kemudian jatuh bangkrut, semua hartanya ludes nggak tersisa, bahkan rumah yang ditempatinya itu akan segera disita oleh Bank, aduh sungguh tragis sekali kisahnya. Dan aku sangat maklum dengan sikapnya, mungkin jiwanya terguncang akibat kejadian itu.  Itulah yang dinamakan romantika kehidupan, kadang kita bisa berada di atas, kadang juga berada di bawah, karena kehidupan itu seperti roda yang selalu berputar. Jadi jika iman kita tidak kuat mungkin saat kita berada di bawah kita bisa seperti ibu itu. Semoga saja kisah ibu itu bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Tak selamanya orang selalu berada di atas, adakalanya berada di bawah. Mungkin kalau kita sedang berada di atas harus selalu ingat Tuhan dan tidak boleh sombong dan kalau kita sedang berada di bawah kita harus bisa menerimanya dengan ikhlas dan bisa menjadikan kita manusia yang lebih taqwa kepada-Nya. Bersyukur atas keadaan kita itu yang harus selalu kita lakukan.

This entry was posted in Kehidupan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

25 Responses to Romantika Kehidupan

  1. 7th Admin says:

    Ding…🙂

    dong…🙂

  2. A. Hafshah says:

    Ada yang bisa kita petik dari kisahmu di atas, bahwasanya kemewahan dunia hanyalah sesuatu yang menipu. Kemewahan yang abadi hanyalah ada di Al Jannah.

    Janganlah lalai dengan kenikmatan dunia, karena mungkin saja di saat kelalaianmu atau ku, kegilaan atau kematian menjemput kita. Maka siapakah yang dapat menghentikannya?

    Janganlah lalai oleh kemewahan, kecantikan, ataupun kenikmatan “nge-blog”, karena semua itu bisa mematikan hati kita dalam mengingat tujuan kita diciptakan di dunia ini.

    [Adz Dzariyat: 56]

  3. achoey says:

    Adik, indah niah sikapmu. A salut.
    Terkadang banyak manusia yang menuhankan harta. Seolah di sanalah kebahagiaan berada. Harta seolah benar2 miliknya, padahal itu hanyalah amanah dari Tuhannya.
    Hal inilah yang membuat banyak orang gak siap ketika keadaan berbalik.
    Buat kita sekarang, bagaimana kita bisa mensyukuri yang ada, dan bersabar saat ga ada.
    Ah maaf dik, A juga baru belajar, semoga mampu🙂

  4. depz says:

    mari belajar bersyukur

  5. taufik79 says:

    Yup.. selamat ya, terus menulis!

  6. jangan katakan kalau blue tak senang dengan postinganmu saat ini…..salah! Blue senangnya minta ampun. kuat dalam penyajiannya dan blue suka banget!
    salam hangat selalu

  7. itmam says:

    salam,,,
    sorry ganggu…😀 ada award buat kmu di http://itmam.wordpress.com/2009/01/15/special-award/
    garap dulu PR nya ya… makasih😉

  8. nelangsa says:

    Cobaan yang diberikan Tuhan tidak hanya ketika kita merasakan kesusahan, namun juga ketika hidup kita sedang senang. Pasrahkan saja semuanya kepada Tuhan, kita hanya bisa berdoa dan berusaha.

    Cheers😀


    yup…., aku setuju, kita harus bisa menerima setiap cobaan dengan tabah

  9. goenoeng says:

    ya, betul. itulah hidup.
    kita nikmati sebisa mungkin, sedapat mungkin dan selama bisa. tak lupa, syukur tentunya.

    ah, semoga ibu itu dan keluarganya segera terlepas dari persoalan.aku bisa ikut merasakannya. sungguh.


    bener kak…

    mudah-mudahan kak…, semoga sekarang beliau sehat-sehat saja

  10. Cengkunek says:

    ada juga cerita di kampungku
    ada 3 bersodara
    ibunya udah lama meninggal
    ayahnya kurang serius ngurus mereka
    sanak sodaranya pada gak peduli
    anak sulung yg cowo gantiin peran psikologis ayah-ibu untuk 2 adeknya yg cewe

  11. Rian Xavier says:

    nostalgia nih?🙂


    yup…🙂

  12. Didien® says:

    nice post…😉 harus tetap bersyukur..

    ikutan 2nd IBSN Award yuk.. pendaftaran bulan ini di tutup tgl 25 jan ‘ 09 jam 23.59 wib, kami tunggu yah… IBSN (Berbagi Tak Pernah Rugi)

    salam kenal & silaturrahmi, ^_^


    iya, kita harus selalu bersyukur

    boleh tuh..

    salam kenal juga, thx udah mampir

  13. geRrilyawan says:

    cobaan hidup kadang berat ya…


    iya, semoga kita bisa melaluinya

  14. departa says:

    Ya begitulah hidup,kita mesti pintar-pintar besyukur dengan semua yang di anugerahkan yang kuasa.Semoga kita bisa bersama belajar dari semua.


    bener banget beli….

  15. SAHABAT…………
    met akhir pekan ya
    salam hangat selalu


    hai blue…

    thx ya…
    salam hangat juga..

  16. Cerita ini menarik. Namun yang tak kalah menarik adalah keberanianmu, Desya. Kau berani mendekati ibu itu.

    Dari mana keberanianmu itu?


    sebenarnya aku takut kak waktu itu…
    tapi pengalamanku paling menakutkan saat aku mempertahankan diri dari penjahat kak

    keberanian itu datang sendiri saat kita terdesak

  17. edratna says:

    Ceritamu bagus Desya….teruskan menulis.

    Hmm yang menguatkan kita sebetulnya adalah iman kepada Allah, karena sebetulnya semua harta itu hanya pinjaman. Dan ibu tadi mungkin kurang dekat pada Allah sehingga tidak ikhlas….ada sambungannya nggak, bagaimana ibu tadi berjuang mulai dari bawah, bisa menerima keadaannya, dan menjadi orang yang bahagia walau hanya hidup cukup.


    terima kasih bunda, senang sekali bunda mau membaca cerita aku…
    benar sekali, semuanya adalah pinjaman, andai saja semua orang bisa berpikir seperti itu, tapi kadang kita lupa akan hal itu…

    nah itu , sekarang aku tidak tau ibu itu tinggal di mana, semoga beliau sehat-sehat saja dan bisa menerima keadaannya.

  18. hanhan says:

    Semua kebaikan pasti akan berbuah kebaikan, aku bangga dengan sikapmu sobat…. kiranya kau akan dilimpahkan karunia yang luar biasa….

  19. RenXe says:

    wah aku kagum kamu bisa berani dekatin ibu itu. kalau aku pasti berpikir keselamatan diriku dulu ra. kalau ternyata dia lagi diambang batas kesadaran dan secara ngga sengaja nusukin pisau itu ke arahku, bisa berabe. untung ngga terjadi di kamu. dan efeknya ternyata luar biasa buat ibu itu….semoga sifatmu yang baik itu akan bertahan terus ra.

    tapi lain kali kamu harus lebih berhati2 dan pikirkan keselamatan dirimu yang nomor 1 ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s