Arimbi Mencari Ibu

Arimbi adalah namaku, aku tidak tau kenapa bapak memberiku nama Arimbi, mungkin bapak ingin aku bisa seperti Dewi Arimbi yang ada dalam kisah pewayangan. Dewi Arimbi yang melahirkan anak Gatut Kaca yang bisa terbang, berotot baja bertulang besi itu. Atau mungkin bapak memang suka dengan nama itu. Mungkin juga karena aku perempuan jadi aku diberi nama itu oleh bapak.

Aku terlahir dari seorang perempuan yang tak pernah aku panggil ibu, yang seharusnya mendampingi seorang laki-laki yang aku panggil bapak. Aku hanya mengenal orang dalam satu wujud yaitu ‘bapak’, tidak ada laki-laki atau perempuan, cuma bapak seorang. Mungkin benar apa kata orang kalau aku terlahir dari pokok bambu betung di belakang rumah, seperti dongeng dari bapak yang selalu menemaniku sebelum aku terlelap. Kisah tentang sepasang suami istri tua yang belum dikaruniai seorang anak, siang malam mereka berdoa tanpa henti dan setelah itu Dewa datang melalui mimpinya menyuruh menebang bambu yang terbaik di belakang rumah, ketika bambu dibelah, terdengarlah tangisan bayi yang melengking.

Kisah itu sering aku dengar, dan semua orang sering mengolok-olok aku, kalau aku memang terlahir dari bambu betung itu. Dan biasanya aku akan berlari ke belakang rumah , kupandangi bambu-bambu itu satu persatu.

“Apakah benar kau yang melahirkan aku?”
“Yang mana dari kalian yang harus aku panggil ibu?”

Tapi bambu itu tidak bersuara, hanya berderit dan meliuk diterpa angin. Aku sering menangis di depan bambu-bambu itu kala orang-orang itu mengejek aku. Biasanya bapak langsung menghibur aku.

“Apakah aku punya ibu?” pertanyaan itu sering terlontar dari mulutku, biasanya bapak sering mengangguk setelah aku tanya tentang ibu. Bapak seperti telaga yang tenang pada permukaannya, karena pelan sekali jika bicara.

“Ceritakan tentang ibu padaku!” pintaku
“Apakah ibu itu perempuan?”
“Seorang ibu sudah tentu perempuan”
“Seperti aku?”
“Iya, seperti kamu”
“Kenapa aku disebut perempuan?”
“Karena kamu memang perempuan”
“Apa yang membedakan laki-laki dan perempuan?”
“Kamu pakai rok”
“Kenapa aku harus pakai rok?’
“Karena kamu perempuan”

Kami berdebat tentang laki-laki dan perempuan saat itu hingga aku terlelap karena kecapekan. Angin berhembus dengan pelan turun dari puncak merapi, membawa kabut tipis. Malam benar-benar beranjak malam, sunyi , sepi dan menggigil, hanya suara jangkrik yang tak henti-hentinya menjerit.

***

Pada senja hari itu kulihat paras muka bapak semakin keruh. Bapak duduk pada bale-bale bambu sambil memainkan sepuntung rokok di ujung jarinya. Lama sekali bapak terpekur memandang ruang kosong. Entah apa yang ada dalam benak bapak, karena aku tak bisa menjangkaunya.

“Bagaimana bapak bisa bertemu ibu?” tanyaku membuyarkan lamuanan bapak.
“Kenapa kau tanya itu?”
“Aku hanya ingin tau”

Akhiranya bapak bercerita tentang ibu padaku. Kata bapak,ibu adalah perempuan dengan wajah yang bercahaya seperti cerita tentang kerajaan Singa Sari , tentang Ken Arok yang menggilai Ken Dedes. Dan saat itu bapak sudah seperti laron yang selalu menggilai cahaya karena wajah ibu yang memancarkan cahaya. Tapi bukankah dalam dongeng tentang Ken Dedes yang memacarkan cahaya adalah betisnya. Pada saat itu Ken Dedes turun dari kereta kencana, angin bertiup agak kencang sehingga tersingkaplah kain yang menutupi betisnya, cahaya pada betis permaisuri akuwu Tunggul Ametung itu berpendar sangat terang mengalahkan terangnya matahari yang membuat Ken Arok terpukau dan terpesona pada betis Ken Dedes , dan Ken Arok berbuat apa saja demi mendapatkan perempuan dengan betis bercayaha itu, hingga pada akhirnya Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Mungkin paras Ken Dedes juga bercahaya, karena pada saat itu rakyat jelata harus menundukkan kepala ketika rombongan istana melintas, maka Ken Arok hanya bisa melihat betisnya saja. Dan bapak sudah seperti Ken Arok yang menggilai ibu dengan paras yang bercahaya.
“Kapan ibu meninggalkan kita?” tanyaku kembali

Bapak kembali bercerita, ada seorang pendaki dari kota yang juga menggilai paras ibu yang bercahaya dan pendaki itu membawa lari ibu saat aku masih bayi. Pantas saja bapak sering berpesan kepadaku kalau aku harus menjauhi para pendaki itu. Bapak takut kalau aku juga akan bernasib sama seperti ibu, karena kata bapak parasku lebih bercahaya dari paras ibu, dan para laron akan mengerubungiku jika aku besar nanti.

Pada malam celaka itu, aku sudah tertidur dan terbuai dalam mimpiku tentang ibu. Suara lolongan srigala dari gunung terdengar sahut menyahut di keheningan malam. Burung hantu yang tak mau kalah ikut memecah malam dengan siulannya yang membuat bulu kuduk jadi berdiri. Saat kuterbangun aku sudah mendapati bapak terbujur dalam bale bale bambunya. Tubuh bapak tak bisa bergerak lagi. Kupandangi wajah bapak yang keruh itu. Aku menangis. Apakah bapak telah mati? Itu pertanyaanku , padahal aku pernah bilang ke bapak kalau bapak tidak boleh meninggalkan aku sendirian, dan bapak bilang kalau tidak akan pernah meninggalkan aku. Kenapa bapak mengingkari janjinya padaku. Aku tersedu memandang tubuh bapak.

Setelah kematian bapak, aku putuskan untuk mencari ibu. Aku akan datangi setiap cahaya yang terlihat olehku, karena paras ibu yang bercahaya. Atau aku akan menunggu para pendaki gunung dari kota siapa tau dia tau di mana ibuku berada. Aku akan tinggalkan tempat ini dan mencari ibu, mungkin ibu tidak mengenal aku, dan aku juga tak pernah melihat wajah ibu tapi kata bapak paras ibu bercahaya.

***

Pada subhuh berkabut kumulai perjalananku mencari ibu. Aku hanya melihat gelap di sekelilingku, aku melangkah diantara embun-embun yang melekat di rerumputan dan embun itu menggantung di bawah bagian daun rerumputan seakan enggan jatuh ke tanah. Embun-embun itu memang tidak akan turun saat keriuhan siang hari, bukan karena takut pada terik matahari tetapi karena mereka menyukai kediam-diaman. Embun-embun itu berarak dalam diamnya dan embun-embun itu tidak pernah menyadari kalau sewaktu-waktu ada badai dia akan terhempas ke tanah dan sirna meresap ke dalam pori-pori tanah atau entah ke mana hilangnya? Aku tak pernah tau ke mana embun-embun itu menghilang.

Aku semakin cepat melangkahkan kaki, kutinggalkan embun-embun itu dalam diamnya. Aku melangkah setengah berlari karena ingin sekali aku segera temukan ibu. Di depan tampak olehku ada rombongan pendaki, mungkin sebentar lagi dia akan melintas di depanku, hatiku jadi bekelindan, aku sudah berharap kalau mereka tau dimana ibuku. Mereka semakin dekat denganku, dan aku menghentikan langkah mereka.

“Apakah kau tau di mana ibuku?” tanyaku pada mereka, mataku sudah berkilau-kilau penuh harapan.

Pendaki itu tampak bingung dan mengamati wajahku, buru-buru aku menundukkan mukaku, kemudian mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala, kali ini gambaran pengharapanku lenyap, runtuh tak tumbuh lagi ,ada kecewa dalam hatiku, ternyata mereka tidak tau dimana ibuku, mungkin pendaki yang lain tau dimana ibuku. Aku tanya setiap pendaki yang aku jumpai dan mereka tak ada yang tau tentang ibuku. Mungkin aku harus mencari ke sumber cahaya, karena kata bapak ibu memancarkan cahaya.

Aku kembali melanjutkan perjalananku, kabut telah terangkat ke atas. Jauh di belakang sana samar-samar badan gunung yang tegak telah ku tinggalkan dan cahaya matahari semakin hangat karena hari sudah semakin siang. Sekawanan burung kecil berjalan di udara melewatiku. Mereka bejalan dengan riangnya. Bahkan burung-burung itu memiliki ibu, kenapa aku tidak memiliki ibu? Mereka bercicit seolah mengejek aku.

“lihatlah, betapa gembiranya keluarga kami” kata burung itu
“aku iri sama kalian, aku ingin menjadi burung saja” sahutku
“saudara kami banyak, dan ibu kami sangat sayang pada kami” ucap burung yang lain

“kenapa kau katakan itu padaku? terbanglah menjauh dariku!” aku menghardik mereka, kini mereka terbang menjauh dariku dan berlompatan dari dahan ke dahan.

Aku tinggalkan burung-burung itu, mereka sungguh sangat beruntung pikirku. Kini mataku dihadapkan pada rimbunan pepohonan yang hijau dan sangat menyejukkan mata. Pohon-pohon itu berdiri dengan khidmad dan mereka seperti aku yang tak tau dari mana mereka bermula. Tapi pohon-pohon itu tak pernah pedulikan kapan mereka pertama kali berada dan mengakar di situ. Mereka berdiri dengan tegak tak pedulikan deruan badai yang dahsyat yang bisa merobohkan tubuhnya. Aku juga ingin seperti pohon-pohon itu berdiri dengan kuat dan tak tergoyahkan. Di samping pohon aku lihat di semak-semak ada pohon beri liar, buahnya merah menjuntai, aku sangat senang sekali, dan bisa memetiknya. Rasanya asam sedikit manis dan berair.

Kini tampak olehku aliran sungai yang beliku, aku berjalan disebelah sungai , airnya mengalir dengan pelan saat aku berjalan dengan pelan, saat aku berlari air sungai itu juga tampak sedang berlari mengejarku, kami jadi seperti ingin saling mendahului. Aku hentikan langkahku ada batu batu besar di pinggir sungai ada juga ikan-ikan kecil yang sedang meliuk-liuk berenang dengan beriringan, sesekali nampak berkecipak di permukaan air. Aku turun ke sungai dan mengejar ikan kecil itu, ikan-ikan itu menggodaku, aku mengejarnya “ayo! Mau lari kemana kamu”, dia semakin terkejut, tubuhnya yang kecil berlompatan, sangat lucu sekali, dan dengan spontan mereka berbalik arah, aku berusaha menggodanya. Ini benar-benar menyenangkan, aku bisa melihat mereka berenang-renang. Setelah lelah bermain dengan ikan kecil aku lanjutkan perjalananku.

Matahari telah letih bersinar berganti dengan semburat jingga di cakrawala. Angin bertiup kencang menggoyangkan selimut hutan. Gelap akan segera turun aku tak bisa lagi berjalan dalam gelap, malam yang benar-benar gelap. Untung saja cahaya keremangan bulan bisa menerangiku. Aku takut berjalan dalam gelap, gelap yang pekat suara lolongan srigala membuat aku semakin takut, ada bayangan gelap, hitam itu yang selalu membuntuti langkahku, aku tak bisa berlari karena benar-benar gelap. Tiba-tiba kulihat cahaya sangat terang di depan sana, apakah ibu ada di sana? Cahaya itu menyala semakin terang, ribuan kunang-kunang membimbingku dan menerangi jalanku menuju sebuah muara yang tak pernah dikunjungi orang.

Radesya, 23 januari 2009

This entry was posted in cerpen and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Arimbi Mencari Ibu

  1. aji says:

    baru tau kalo ken arok seorang fetishist. hehehe sama dong kayak aku. trus ni arimbi kayak orang gila aja, tenang dikit napa…

    trus ceritanya kayak gimana ya… kalo misalnya ada jalan lurus, ceritanya berjalan pindah-pindah dari trotoar kiri ke trotoar kanan trus ke kiri lagi. Gak tau sih akunya yang baru bangun, atau IQku yang lemah, otakku emang terbatas untuk mengolah cerita kayak gini. cerpen2 yang dulu-dulu masih relatif lebih mdah dicerna.

    Aji, masak kamu kayak ken arok sih?

    kalau belom bisa mengerti kamu baca lagi aja ya, nah kalau belom ngerti juga ulangi sampai mengerti ya…

  2. Hejis says:

    Ya, ya Arimbi memang anak yang hebat perjuangannya. Anaknya (Gatotkaca) aja hebat.

    Btw, kalau saya senang juga dengan Wisanggeni, mbak Ra. Itu anaknya Arjuno yang gak mau kromo inggil kepada siapa saja, tapi sakti sekali sampai para Dewa jerih dengan kesaktiannya. Ia juga mau berkorban dengan merelakan nyawanya demi kemenangan Pandawa dengan cara dibunuh sri Kresna (kalau gak salah ya?) sebagai tumbal. Ia pembela kebenaran. Ah cuma cerita wayang saja.. he.. he..

    Alhamdulillah, saya sudah bisa masuk ke halaman utama blog ini. Kemarin-kemarin gak bisa. Salam ya..😀

    wah pak Heru suka wayang juga?
    aku dulu suka didongengi eyang waktu aku masih kecil, ada gatot kaca juga, tentang pandawa dan kurawa juga…

    thx ya pak, dah mau luangkan waktu buat kemari…
    jadi seneng🙂

  3. casual cutie says:

    waow salam kenal ya mba

    salam kenal juga….

  4. thevemo™ says:

    Cerita pewayangan modern nih mbak?

    owh…
    bukan pak…

  5. sahabat………selamat berakhir pekan ya
    salam hangat selalu

    sahabat….
    terima kasih…

    salam hangat juga

  6. achoey says:

    Arimbi sosok yang begitu kuatnya
    aku melihat itu dari sinar matanya
    Banyak disana yang menyayanginya
    Kulihat itu dari keceriaannya

    Kau ternyata pandai juga merangkai cerita sahabatku🙂
    Semoga kabarmu baik
    Alhamdulillah A juga🙂

    Semangat!

    kakak…
    cerita kakak jauh lebih bagus, kakak lebih pandai dari aku

    iya semangat!!
    ganbatte!!

  7. itmam says:

    ceritanya indah… alurnya juga mengalir…
    tapi bagiku yang agak lemot dalam dunia sastra… harus mengernyitkan kening terlebih dahulu untuk memahami baris demi baris,, kalimat per kalimat…
    so… very very beautifuL…🙂

    apa kakak belum jelas, padahal bahasanya biasa aja

    thx ya kak atas krtitiknya

  8. RenXe says:

    niiiiceeee!!!
    bagus ra, penyusunan kata2nya pas. tapi masih lemah di kerangka cerita. agaknya kamu bikin ceritanya tanpa tujuan akhir yang jelas. event penting seperti meninggalnya sang bapak pun kurang kamu jelaskan sebabnya.

    trus, ini nih tata cara penulisan.
    Kata2 yang diucapkan tiap karakter harus ditulis di paragraf yang berbeda. Contoh :

    “lihatlah, betapa gembiranya keluarga kami” kata burung itu
    “aku iri sama kalian, aku ingin menjadi burung saja” sahutku “saudara kami banyak, dan ibu kami sangat sayang pada kami” ucap burung yang lain

    lebih tepat klo kamu tulis seperti ini :

    “Lihatlah, betapa gembiranya keluarga kami.” Kata burung itu.

    “Aku iri sama kalian, aku ingin menjadi burung saja!” Sahutku.

    “Saudara kami banyak, dan ibu kami sangat sayang pada kami.” Ucap burung yang lain.

    yup, sekian komentar. ditunggu cerpen berikutnya ya ^^

    Wah, emang aku bikin seperti itu kak, biar jalan ceritanya mengalir
    tapi aku suka kritikannya, kakak teliti banget ya, nah gitu dunk kalau kasih koment, biar aku bisa bikin yang lebih bagus, maklum saja masih belajar
    thx banget ya kak…

  9. Mbak Titut says:

    waooo bagus banget😛

    Thx mbak…
    masih dalam taraf belajar koq, belum bisa disebut bagus

  10. seneng dech klo udah ngelyat blognya radesya.. bawaannya cool, adem getoo…

    Siip lhaa… Sukses dan Salam silaturahim…😉

    wah, aku juga seneng lho, makanya seringlah maen kemari ya…

    thx ya..🙂

  11. Ghani Arasyid says:

    Kisahnya keren sekali…😀

    thx kak…🙂

  12. casual cutie says:

    boleh sy copas ga mba??

    wah di copas? buat apa nih?
    boleh saja asal sertakan nama pengarangnya (baca: radesya) ya..

  13. sahabat………..kapan kamu mau mencarikan jodoh buat blue……..ha…..ha!
    salam hangat selalu

    sahabat…
    ada apa denganmu? semoga segera dapet jodoh deh…

    salam hangat juga…

  14. Mas Koko says:

    Panjang ceritanya, saya baca dulu ya🙂

    udah belom bacanya?😀

  15. depz says:

    ganbatteee🙂

    ganbatte…

  16. perempuan says:

    pengen bgt bisa bikin cerpen sndiri jenk Ra, tp selama ini aq msh stak jadi pnonton aja😀 ehehe..

    ayo bikin ja kak, tuangkan semua yang ada di kepala, pasti bisa

  17. Pingback: Radesya » Blog Archive » Ingin Menjadi Pohon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s