Dalam Badai

Buat sahabatku Ryuji-san



storm

Aku terpaku dalam diam, dingin begitu menusuk semua persendianku, gelombang besar bergulung-gulung dengan gemuruhnya yang menjadi ombak. Tak ada satupun orang yang berani keluar rumah. Sepanjang malam angin kencang menderu-deru bersama hujan. Petir halilintar menyalak bagaikan seruling yang nyaring memekakkan telinga. Bunyi badai yang bergemuruh itu terasa memilukan hati. Dan hujanpun masih tercurah dari langit dan menitik pada talang yang terdengar nyaring, kemudian memantul membasahi seluruh permukaan jendela. Angin terus saja menjerit-jerit melalui pucuk pohon kelapa yang membuat pohon itu meliuk-liuk tak berdaya.Tak tampak lagi bola-bola api dari perahu-perahu nelayan yang muncul dari kejauhan seperti malam-malam sebelumnya. Semua nelayan tak berani melaut.

“Kau belum tidur nak?” ucap ibu pemilik pondok mengagetkan aku.
“Iya bu…, rasanya mata ini sulit terpejam”
“Pakailah selimut ini, biar terasa hangat” ucap ibu sambil mengulurka sebuah selimut tebal berwarna cokelat .
Aku meraih segera meraih selimut itu, memang terasa hangat
“Terima kasih” ucapku
“Badai tak akan reda hingga beberapa hari nak”
“Apa selalu seperti ini?”
“Biasanya tak seburuk saat ini”
“Ini yang paling buruk?”
Ibu itu mengangguk pelan
“Tidurlah nak…!”
“Aku takut bu…”
“Biar ibu temani kamu disini, berbaringlah ibu akan jaga kamu”

Kemudian aku berbaring dekat ibu, tangannya yang lembut mengusap-usap rambutku dengan pelan. Ibu ini memperlakukan aku layaknya putrinya sendiri. Aku merasakan kasih sayangnya malam ini yang membuat hatiku terasa damai seperti di rumah sendiri. Hingga aku akhirnya terlelap.

Mataku seolah kena lem, susah sekali terbuka. Ada bunyi yang berderak-derak, rupanya jendela yang tertiup angin. Hari sudah pagi, tapi badai masih saja bergemuruh. Langit masih tampak hitam dan pekat. Aku teringat sesuatu karena tubuhku terasa dingin. “Ah…selimut! mana selimutku semalam?” tanyaku dalam hati sambil terus mencari-cari selimut. Mungkin ibu telah mengambilnya kembali pikirku. Aku beranjak dari tempat tidurku. Aku ingin menemui ibu dan mengucapkan terima kasih. Kudapati ibu sedang menyiapkan teh hangat dan makanan kecil sebagai pelengkapnya.

“Selamat pagi…” aku menyapa ibu
“Selamat pagi nak…,sudah bangun?”
“Iya bu…, terima kasih semalam ibu sudah menemani aku”
“Apa nak?” jawab ibu nampak heran
“Ah ibu….,semalam ibu kan sudah temani aku sampai aku tertidur, ibu juga telah pinjami aku selimut, sekali lagi terima kasih bu…”
“Tapi nak, semalem kepala ibu terasa sangat berat, bahakan ibu sama sekali tidak keluar kamar”

Aku semakin heran dengan jawaban ibu, kalau bukan ibu siapa yang menemani aku semalam. Apa cuma mimpi? Entahlah aku jadi bingung tak mengerti. Aku terdiam dan ibu juga terdiam. Kami berada dalam pikiran kami masing-masing. Suasana jadi hening sejenak. Mungkin ibu juga berpikir keras seperti aku.

“Sudahlah nak, mungkin kamu cuma bermimpi saja, ayo kita minum teh hangat ini biar tenang”

Mungkin aku memang sedang bermimpi saat itu, tapi…, aku tak mungkin bermimpi, jelas aku masih sadar sesadar-sadarnya. Tapi kenapa ibu bilang tak keluar kamar? Pertanyaan yang sulit terjawab.
Badai benar-benar semakin menggila, gelombang yang bergulung bermunculan membangkitkan gemuruh yang dahsyat. Kadang gelombang-gelombang raksasa itu menjauh dari permukaan air nampak mencuat dan buih-buih gelombang bercampur air hujan yang tercurah. Aku terjebak dalam badai di sini entah sampai kapan.

Awan bergerak naik turun bahkan pada langit gulita itu menggelombangkan kegelisahan antara gelap dan terang. Entah apa yang terjadi padaku saat itu, kakiku begitu saja melangkah. Ada sesuatu yang menarik langkahku menempuh badai. Hujan yang lebat membuat tubuhku basah kuyup. Kurasakan air hujan itu mengalir melalui rambutku yang panjang tergerai. Aku terus menatap badai, ada suatu kedamaian yang diselimuti kesunyian. Aku seperti berada dalam suatu harmoni alam yang dahsyat.

Kujatuhkan pandanganku pada laut yang bergemuruh di depanku. Buih-buih putih berlarian tak terhingga jumlahnya. Sesekali karang terjal tersapu oleh gelombang. Tak ada siapapun, begitu sunyi, hanya deruan angin yang sangat kencang bergemuruh diiringi air hujan yang jatuh membuat irama yang indah. Aku masih terpaku di bibir pantai. Tubuhku terasa menggigil. Badai terasa mengerikan di tempat kosong seperti ini. Tapi entah apa yang membuatku enggan beranjak dari tempat ini. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara minta tolong, aku hanya bisa mendengar suaranya saja. Dan nampak olehku tangan yang menggapai-gapai, nampaknya orang itu tenggelam. Aku berusaha mendekat, tapi alur gelombang yang tergulung-gulung menghalangi pandanganku. Suara itu terus melolong menyayat hati. Dan aku masih melihat tangannya yang timbul tenggelam. Aku semakin dekat, tapi suaranya semakin jauh, aku berusaha mendekat lagi. Setelah aku agak ketengah semakin dalam aku baru sadar kalau aku tidak pandai berenang.

Gelombang-gelombang mulai bergejolak tak terkendalikan, aku tergulung dalam gelombang semakin ke tengah. Butir-butir air yang segar bergaram masuk kedalam kerongkonganku, terasa sangat asin, mataku terasa sangat pedih sekali. Ada pusaran air yang berusaha membawaku hingga ke dasar. Pusaran air itu begitu kuat menyedotku. Aku berusah meronta-ronta. Kukerahkan semua kemampuanku untuk terus naik ke atas. Tapi air itu begitu kuat. Aku terkulai lemas tak ada tenaga lagi. Sekuat apapun aku tak akan mampu menandingi dahsyatnya alam yang sedang bergolak. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa, kupejamkan mataku dan kubiarkan tubuhku semakin kedasar. Dalam hati aku hanya berdoa dan berdoa. Tiba-tiba sangat ajaib! Ada sesuatu yang menarik tubuhku. Cahaya yang sangat terang benderang mendorongku dari bawah. Tubuhku melesat dengan cepat bak busur anak panah yang lepas kendali. Aku terlempar ke bibir pantai.

Aku terkapar tak berdaya. Aku tak tau lagi apa yang akan terjadi padaku. Kepalaku terasa sangat pening. Kemudian aku muntahkan semua air bergaram dari perutku. Terasa agak lega. Aku duduk mendekap lututku, terasa sangat dingin dan menggigil. Hujan dan angin kencang belum reda. Aku lihat ada seorang pemuda yang berlari kearahku. Dia semakin dekat dan telah berada di depanku. Dia nampak terheran-heran memandang takjub padaku.

“Apa kau manusia?” dia bertanya padaku
Aku diam tak menjawab, mulutku terasa terkunci, aku belum bisa mengerti apa yang telah terjadi.
“Kau seorang dewi?” ucapnya lagi

Aku tetap tak bisa bersuara, meskipun dalam hati ingin sekali aku menjawabnya, kalau aku adalah manusia. Matanya menatapku tak berkedip, semua bagian dari tubuhku dipandangi satu persatu. Kemudia pemuda itu mundur beberapa langkah, wajahnya berubah pucat pasi. Dia bersiap untuk lari. Dan aku berusaha membuka mulutku untuk bersuara. Tapi suaraku tertahan.

“Aaaakkku… mmaaaanuuussiia..”ucapku terbata-bata
“Apa benar kau bukan dewi?”
“Iya…” kataku lirih

Aku berusaha untuk berdiri, tapi seluruh persendianku terasa ngilu. Aku tetap berusaha dengan sisa tenaga yang aku miliki, tapi aku tetap tak mampu berdiri.

“Biar aku bantu kamu” ucapnya

pemuda itu membantu aku untuk berdiri, tapi aku tak kuat, kemudian dia memapahku, dan membawa kesebuah pemondokan tempatnya menginap. Dia membaringkan aku kemudian mengambilkan selimut untukku. Dia juga membuatkan teh hangat untukku.

“Terima kasih” ucapku

Dia masih terheran-heran memandangiku. Matanya yang tajam tetap tak berkedip seoalah-olah ingin masuk kekedalamanku.

“Benarkah kau ini manusia?” dia bertanya lagi
“Iya, kenapa kau bertanya seperti itu terus? Apa wajahku menakutkan?”
“Tidak, kamu seperti lukisan yang sangat sempurna, aku juga melihatmu keluar dari dalam air, wajahmu bercahaya”
“Tapi aku manusia, lihat kakiku berpijak pada tanah” aku turunkan kakiku dan berusaha untuk berjalan.
“Iya, sekarang aku percaya, coba ceritakan padaku, kenapa kamu bisa keluar dari dalam air?”
“Maaf aku tidak ingat, tadi aku ingin menolong seseorang, tapi terseret kedalam”
“Owh…, beruntung sekali kamu”
“Kenapa?”
“karena kamu bisa selamat”
“Apa benar kau tadi melihatku keluar dari dalam air?”
“Iya, awalnya aku melihat cahaya, tapi kemudian aku seperti melihat orang yang terbang, kemudian aku berlari kearah cahaya itu, ternyata ada kamu di sana”
“Sekali lagi terima kasih sudah menolongku”
“Tidak apa-apa, mungkin Tuhan yang telah menolongmu, owh iya namaku Ryu”
Pemuda itu mengulurkan tangannya padaku. Aku menjabat tangannya.
“Bagaimana kamu bisa keluar, alam sedang tidak bersahabat”
“Aku tidak tau” jawabku

Kemudian dia banyak bercerita tentang pulau ini padaku,dan mengantar aku pulang kepemondokan. Ibu menyambutku dengan suka cita.

“Tadi ibu mencari kamu nak, kamu tidak apa-apa kan?” ucap ibu yang wajahnya membiaskan kepanikan yang dalam.
“Tidak bu, aku tidak apa-apa?”
“Syukurlah, ibu sudah sangat khawatir”

Aku tak mungkin menceritakan kejadian yang aku alami ini pada ibu. Biar aku sama Ryu saja yang tau. Semoga saja badai segera mereda dan aku bisa kembali pulang kerumah. Di saat-saat seperti ini aku semakin merindukan mamaku. Dan untuk terakhir kalinya aku menatap badai, aku pandangi gelombang-gelombang yang bergemuruh disertai air hujan yang tercurah dari langit itu. Kini badai bagiku memiliki nada yang membosankan. Gemuruh gelombang bagaikan celoteh sanga pemabuk.

This entry was posted in cerpen and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

22 Responses to Dalam Badai

  1. senoaji says:

    hmmmm… no comment deh! tulisan ini belum tentu lengkap jika aku komen…

  2. heeee…. ternyata emang aneh ya ceritanya hahaha agak gak nyambung hehehe… tapi ayo semangat! aku yakin kamu bisa, kamu itu penuh bakat. mungkin kamu terlalu terburu dalam menulis cerita ini. jangan dihapus, jadikan sebagai history kamu, nanti beberapa waktu kedepan kamu mungkin bisa tersenyum melihat gaya penulisan kamu yang sekarang… people keep their childhood photos untuk apa? untuk dikenang kan? ayo semangat! aku dukung!

    • radesya says:

      Hahaha, iya koq jadi nggak nyambung gini ya, aneh banget, aku pas baca jadi ketawa dah gitu malu sendiri..
      Thx atas dukungannya

      eit..,jangan ketawa mulu, jadi pingin hapus deh..
      Maluuuuuuuuu….
      *menutup muka*

  3. Septa says:

    Ini fiksi ato nyata ra🙂 ?

  4. itmam says:

    terkadang hal-hal yang mistik bisa saja terjadi, dan aku percaya itu.
    jadi inget film Lost, saat John bilang pada Jack perihal mistik yang dia alami, klo ga slh gni “coz u’r a man of science, Well, I’m a man of faith”
    mungkin sebagian orang tidak bisa percaya dengan keanehan yang terjadi, but.. i believe it🙂

  5. itmam says:

    ceritanya bagus re…
    tetaplah menjadi dewantari, yang selalu memancarkan cahaya keindahan, bak lukisan jiwa yang sempurna!

  6. achoey says:

    kau memang cerdas, dik
    ini adalah sebuah fiksi yg penuh ruh

  7. selamat malam sahabat
    kenapa yah blue tak dapat cabar darimu?
    salam hangat selalu
    arisan lagi masih mau?

  8. menurutku ceritanya masih ngambang. sosok si ryu hanya numpang lewat.

    ~sok banget dah gw😛 .

    • radesya says:

      Kak Agung benar koq..
      Ryu itu tokoh figuran ja, dia memang numpang lewat, sebenernya ceritanya panjang kak, tapi aku potong
      mohon maklum kak, lagi belajar menulis, jadi masih banyak kesalahan
      thx kak Agung, seneng deh, kakak mau koreksi🙂

  9. ryu says:

    Aku masih menantimu dewiku… Cepatlah besar..🙂

  10. ryu says:

    …biarlah aku menemanimu di sini, aku akan menjagamu dalam hidupku…

  11. Shofiyah says:

    Assalamu’alaykum

    ummmm,,

    speechless dek,,

  12. depz says:

    berbakat nih jd penulis pro🙂

  13. imcw says:

    Cerita yang menarik…

  14. tukyman says:

    sekedar berbagi cerita
    sudah lama aku tak berkunjung ke kaplingan anda
    salm dari sesama blogger🙂

  15. Angin datang, tunduklah…

  16. kezedot says:

    selamat malam,sahabat
    dan aku tertunduk di diamnya perasaan kerinduan padasesuatunya!
    salam hangat dalam dua msimnya blue
    main kesini yah blue tunggu

  17. anda says:

    kunjungan balik dari saya

  18. itmam says:

    selamat malam rara!
    met libur akhir pekan, moga menyenangkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s