Surat ke-1000 buat Ayah

Dear Papa…,

father

Ada yang istimewa saat ini, karena suratku untukmu sudah mencapai angka yang istimewa, ya…, angka keseribu. Aku tak pernah bosan dan tak akan pernah bosan untuk terus menuliskan surat padamu. Hari ini aku akan kembali bercerita tentang aku. Semoga papa di sana tidak bosan membacanya. Meskipun tak pernah sekalipun membalasnya. Aku tau karena itu tidak mungkin karena kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Semoga Allah selalu menjaga papa di sisi-Nya, dan memasukkan papa ke dalam golongan penghuni surga.

Waktu berlalu begitu saja, jam-jam naik turun bagai gulungan ombak di samudra. Jalanan masih padat kendaraan yang lalu lalang saling mendahului. Mobilitas kota memang sangat cepat. Gedung-gedung apartemen saling berlomba-lomba untuk lebih tinggi. Waktu bergerak sembunyi-sembunyi namun menebarkan bau kebusukan, karena mereka menunggu kesempatan untuk melenyapkan kehidupan. Seperti kapal-kapal tidak berjangkar yang tersapu gelombang yang menderu di tengah samudra dan hilang entah kemana. Seperti waktu yang telah merenggut papa dariku.

Papa…, aku akan bercerita yang aku alami tadi saat aku pulang. Air mataku tak bisa lagi bertahan ditempatnya, dia kembali tumpah seperti tanggul di Situ Gintung yang jebol kemaren. Begitu derasnya dan tak tertahan lagi. Mungkin aku terlalu berlebihan pa…, tapi aku tak bisa lagi menahannya jika melihat pemandangan yang barusan aku lihat. Mungkin sifat ini juga menerun dari papa. Tadi ada nenek-nenek tua renta yang berjalan tertatih-tatih, sangat kepayahan. Sesekali berhenti sejenak untuk istirahat kemudian berjalan lagi. Ia tidak membawa apa-apa, bahkan membawa tubuhnya saja sudah sangat kepayahan seperti itu. Aku jadi ingat dengan nenek penjual pisang. Tapi nenek ini lebih renta lagi, pakaiannya lusuh, wajahnya penuh dengan kerutan di sana-sini. Ada keriput-keriput yang menunjukkan apa yang telah dilaluinya. Ada lingkaran-lingkaran penderitaan di bawah matanya. Aku mencoba menguraikan kekusutan siluet-siluet dalam matanya .Keriput juga memenuhi seluruh tubuhnya, rambutnya bagai rerumputan kering yang terbakar terik matahari. Saat aku tatap matanya ada awan hitam yang meyelibungi hatinya. Wajahnya begitu memelas, wajah kelelahan yang amat sangat. Dan tubuhnya bergetar seperti dahan-dahan yang sakit.

Aku mendekati dan berjongkok didepannya saat dia mulai kepayahan dan berhenti berjalan. Sementara kendaraan masih berlalu-lalang dibelakang kami. Aku mencoba bertanya padanya

“Nenek hendak ke mana?”

Tapi ia tidak menjawab pa.., dia hanya tersenyum sambil memamerkan permukaan gusinya yang ompong tanpa gigi. Mungkin gigi-gigi itu sudah terkikis oleh masa. Tapi setelah senyum dia meneteskan air mata. Taukah papa apa yang selajutnya ia lakukan. Ia mengusap-usap kepalaku seperti yang dilakukan eyang saat aku memberi hadiah sandal jepit itu. Ada sesuatu yang segera menyembul dari dada, aku merasa sangat terharu dan tak kuasa menahan air mataku untuk tidak keluar. Hanya mata kami yang saling bicara, itu saja sudah bisa membuat kami saling mengerti.

Papa…, setelah itu aku mencoba menawarkan nenek ke tempat tujuannya, tapi aku bawa motor, yang aku pikirkan saat itu apakah nenek bisa aku bonceng pakai motorku? Kalau jatuh bagaimana? Tapi aku sungguh tak tega membiarkan berjalan sementara kendaraan lalu lalang disini. Entah di mana keluarganya, di mana anak-anaknya, di mana cucunya, kenapa begitu tega membiarkan neneknya tersesat sendirian di sini. Akhirnya aku putuskan untuk mencegat taxi biar lebih aman. Aku utarakan maksud aku agar nenek mau naik taxi. Dan dia hanya tersenyum, dan justru senyumannya semakin membuat aku tak tahan untuk tidak mengeluarkan buliran-buliran kristal bening dari kelopak mataku. Aku kembali bicara tapi nampaknya nenek ini tidak mengerti pa…,  kemudian aku keluarkan sebungkus coklat dari tas aku. Aku buka bungkusnya dan menyodorkan kepada nenek.

“nenek mau?, nenek tidak akan kehilangan gigi karena makan coklat karena nenek emang sudah tidak punya gigi”

Tapi ia hanya menggeleng, rupanya ia tak suka coklat pa…, kemudian aku tanya lagi
“Apa nenek sudah makan?”
Ia juga menggeleng lagi, aku jadi bingung mesti bilang apa lagi. Aku mencoba menerka apa yang diinginkannya, ada setitik cahaya yang melintas dalam bola matanya. Dan awan-awan hujan memandang tajam ke arah kami.
“Wes sore nduk…”
Aha…, rupanya nenek berbahasa jawa pa…, aku kemudian bicara dengan jawa dan menanyakan apa keinginannya. Ternyata ia tidak menginginkan apa-apa, bahkan ia tak mau makan. Aku kembali bercicau, dan mengatakan seharusnya nenek berada di rumah saja, kalau butuh apa-apa tinggal bilang sama cucunya. Atau kalau ingin bepergian tinggal minta tolong saja. Tapi pa…, nenek hanya tersenyum, tapi ada kepedihan disetiap senyumannya.

Papa sayang…, kemudian nenek bangkit hendak melanjutkan perjalanannya. Tapi ia tidak mau naik taxi, aku kemudian mengantarnya untuk naik bus dan memberinya sejumlah uang, semua yang ada di dompet  aku kasihkan semua pa…, setelah bus melaju membawa nenek aku jadi khawatir, apa aku sudah berbuat benar? Aku jadi merasa bersalah karena tidak mengantarnya sampai tujuan. Aku sangat sedih pa…., aku jadi kepikiran. Sepanjang jalan tak bisa aku lepaskan pikiranku dari nenek. Tapi aku sudah berusaha menjadi orang baik di sisa waktuku, seperti yang papa ajarkan dulu. Papa…, disetiap nafas yang aku hirup adalah selangkah lebih maju menuju kematian, dan waktu akan terus mengintaiku. Karena tak ada yang abadi di dunia ini.

Papa…, aku masih saja kepikiran dengan nasib nenek, apakah aku sudah bersikap benar? Aku masih saja merasa bersalah. Dan…, taukah papa apa yang terjadi selajutnya? Saat aku buka dompet dan ingin memandang foto papa, uang yang aku kasih ke nenek tadi kembali berada dalam dompetku. Padahal tadi aku sudah memberikan semua pada nenek. Tapi kenapa bisa ada dalam dompetku lagi? Aku binguna pa…, sangat bingung. Apa aku memang sudah gila? Apa yang ada dalam kepalaku ini? Aku nggak tau lagi pa…., nggak tau. Apa benar penyakit gila ada berbagai macam. Aku termasuk yang mana?Aku akan selalu mendoakan papa, semoga Allah mengampuni dosa-dosa papa. Semoga papa tenang dan damai di alam sana. Amien….

Mentari kecil

This entry was posted in Story of my life and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

45 Responses to Surat ke-1000 buat Ayah

  1. itmam says:

    rara,,, hatimu begitu lembut, kamu sungguh mulia ra, aku ga’ bisa berkata banyak, semoga papa kamu dapat menikmati keindahan di alam kuburnya, karena memiliki rara yang sholehah… Amin.

  2. selamat malam sahabat
    blue datang memberikan titipan doa yang terbaik buat papahmu………
    blue akan selalu mencoba menemanimu
    salamhangat selalu

  3. aaaa aku tersentuh… kamu emang orangnya cewe banget tapi juga cowo banget… hehe bukan maksudnya bencong hahaha

    oh iya, kemalangan2 akan terus datang, jadi siapkan aja matamu mungkin kamu bakal nangis terus.. belajarlah untuk tidak menangis

    • nambah lagi… (boleh kan?) yang kamu lakukan sudah benar, orang-orang seperti nenek itu membutuhkan sesuatu yang nyata, seperti uluran tangan kamu.

      dan tangis…

      dan tangis adalah -yang aku pikirkan dewasa ini- adalah sesuatu yang hanya membuat suasana semakin berat. Bukankah lebih baik kalau kita membantu tanpa ada air mata? Air mata ini mungkin dapat digantikan dengan senyum dan kerendahan hati…

      ayo coba bayangkan ya, pilih kondisi:
      1. membantu sambil menangis, atau
      2. membantu sambil tersenyum

      kalau kamu bayangkan, kamu bisa tau bagaimana suasana itu terbentuk. tersenyum disini bahkan tidak ada rasa penghinaan, malah kita membantu orang tersebut melupakan masalahnya dan memperkenalkan diri kita sebagai sebuah solusi dalam menjalani hari-hari berikutnya…

      bagaimana menurutmu?

      • radesya says:

        # cewek banget dan cowok banget, iya sih sifat aku itu lembut…, aku sudah berusaha untuk tidak menangis, tapi nggak bisa

        # terima kasih atas nasehatnya, aku akan coba deh, tapi kayaknya aku memang sering terharu gitu. mudah sekali merasa iba. Bahkan sudah dari kecil aku seperti itu. Lain kali aku akan coba nasehat kamu ya…
        adakalanya aku tersenyum dan adakalanya aku menangis, dan begitulah hidup. Biasanya setelah menolong orang aku akan tersenyum bahagia meskipun cuma di hati saja. Ada perasaan senang saat kita bisa membantu seseorang

  4. depz says:

    papa pasti bangga banget punya anak spt adik🙂

  5. cantigi™ says:

    hmm.. meaningful.. deeply touching.. ^_^

  6. HumorBendol says:

    Hiks…jadi inget ayahe Bendol.😦

  7. han han says:

    Papamu akan tetap tersenyum dan akan tetap berada dihatimu sampai kapan pun…. hingga kau akan terlelap tidur di dekapannya…..

  8. RenXe says:

    wah wah..kok ajaib yah ra…? uangmu balik ke dompetmu?
    yakin km udah ngasih ke nenek tadi?

    hmmm…mungkin kamu lagi dihadapakan pada suatu ciptaan atau fenomena buatan Tuhan untuk menguji kebaikan hatimu….kamu ngga gila ra. tindakanmu sungguh terpuji. aku yakin kamu akan dapat balasan berlipat-lipat dari kebaikanmu nanti, someday… ^^

    • radesya says:

      iya kak, aku juga nggak ngerti kenapa bisa seperti itu…, aku sempet berpikir kalau aku sudah gila.., atau cuma halusinasi saja..

      semoga saja kak… Amien….

  9. shofiyah says:

    Dek,,,
    nenek itu salah satu dari mereka???

  10. Rara… betapa lembut, betapa halus, betapa tulus yang ada pada dirimu. Baik pikiran maupun hatimu. Aku sampai berkaca-kaca membaca tulisan ini. Aku kira ini tulisan paling indah yang pernah aku baca di blog ini.

    Dan taukah, Ra, saat Rara cerita tentang pertemuan dengan seorang nenek tempo hari, aku tak menyangka ternyata seperti ini jalan ceritanya setelah dituliskan. Ini sebuah keajaiban. Kamu sedang ditunjukkan sesuatu, Ra…

    Bersyukurlah terlahir sebagai dirimu. Papa pasti bangga. Pasti!

    • radesya says:

      kakak…, mungkin kakak terlalu berlebihan…, aku juga manusia biasa yang sering melakukan kesalahan, aku hanya berusaha menjadi orang baik kak..

      semoga saja kak, aku sangat bersyukur terlahir menjadi aku koq, te-ri-ma-ka-sih kak

  11. shofiyah says:

    sabar yah sayanggg

  12. Hejis says:

    Sebetulnya papamu mendengar dan menyayangmu dengan caranya sendiri. Tetaplah berbakti…🙂

  13. Murid Baru says:

    Surat yang ke 1000? Dah banyak sekali ya mbak. Begitu dalam cintamu mbak…

    Salam kenal dari Murid Baru, mbak🙂

    • radesya says:

      Wah ada murid baru nih.., iya udah ke-1000…, tentu saja aku sangat sayang sama papa..

      salam kenal juga, eh iya kita kan udah kenal Pak…🙂

  14. geRrilyawan says:

    wah….speechless…..

    terharu….

  15. senoaji says:

    lobi-lobi seorang pewaris keturunan kepada Penggede khayangan… Indah… pastilah doa itu akan menjadi lontar dengan rajutan kata untuk tersampaikan kepada yang dituju..

    semoga kebaikkan langit dan bumi menyertai Papamu dan kamu yang tau bagaimana mengindahkan peran seorang anak

  16. itmam says:

    mampir.. pengen nengokin rara,, cepet sembuh yah dik..!!!

  17. Aden Kejawen says:

    No comment dulu ach, bingung mau comentar apa

    salam kenal aja dech dan mampir ya!

    kita tukeran link yukkkk

  18. selamat sore sahabatku
    gimana cabar?
    yuk ikutan dulu berimpatik mau kan?
    salam hangat selalu

  19. achoey says:

    Adikku
    A kagum padamu
    Kau anak yang baik

    Adikku
    A kagum padamu
    kau begitu lembut

    Semangat!

  20. septa says:

    sorry baru bisa berkunjung..

    jadi ini yah maksudnya Rara..

    tetep selalu terSENYUM ya Ra..

    -salam friendship-

  21. Afdhal says:

    heei…kita udah temenan di FB tapi baru kali ini berkunjung…rupanya kita connected via blog jg
    salam kenal a

    nice experience….
    pasti papa’mu bangga

  22. Murid Baru says:

    Murid Baru datang lagi, mbak untuk belajar tentang kasih sayang yang dalam dari mbak. Ajari ya mbak🙂

    Artikel terbaru Murid Baru: Kepedulian pada Bencana Mungkin Sekadar Pola Hidup Topikal

  23. kezedot says:

    selamat siang sahabat
    tetapkan doa itu sellau ada untuk ayahmu,yah
    salam hangat dalam dua musimnya blue
    kezedot.wordpress.com

  24. Andrey says:

    Waktu, waktu.. siapa yang tau akan waktu.. kapan kita jd kaya, kapan kita jd miskin, kapan kita jd sakit, jadi senbuh kembali. Semua punya waktu sendiri-sendiri, bahkan kita lahirpun kita sudah tanda tangan kontrak dengan Allah akan waktu-waktu yang akan kita lalui masing-masing. jadi jangan pernah kita protes dan bertanya tentang waktu lagi, kita harus pasrah dan mau terima apapun waktu yang diberikan kepada kita. Semoga kontrak waktu kita selalu yang baik-baik saja, Amien.

  25. philoSHOFIY says:

    amin..

    mm.. ga ada kata “kebetulan” disetiap kejadian yang kita lewati..
    jadi, kejadian bertemunya kalian berdua pasti ada “sesuatu”nya, “sesuatu” yang bermanfaat🙂

  26. kahfinyster says:

    hoa,, ke 1000?

    surat nya,, bener2 menyentuh,🙂

  27. Semangat ya ra..
    Semoga dengan berjalannya waktu kamu dapat lebih dewasa untuk menyikapi ini..

  28. selamat malam sahabat
    gimana cabar?
    semoga indah selalu hari harimu yah
    semangat
    salam hangat selalu

  29. selamat malam
    jika masih bingung mau contreng apa nanti mending ikut pooling tempat arisan yuk mang…………..
    salam hangat selalu
    kangen aku bang

  30. goenoeng says:

    kamu, lembut sekali Desya.
    betapa beruntungnya papamu, mempunyai mentari kecil seperti dirimu.🙂

  31. Murid Baru says:

    Saya ke sini mau ngantar surat mbak. Harap diterima ya, bacanya nanti malam aja kalau udah pada sepi…

    Artikel terbaru dari Murid Baru: Cerdas Bermedia dan Cerdas dari Media

  32. pagi………….
    i miss u
    kemana saja yah sahabat blue ini?
    selamat berlibur
    salam hangat selalu

Comments are closed.