Kesunyian membawaku ke "Negeri Senja"

senja

Aku termenung dalam diam dan bisu, memikirkan ini sendirian. Tak ada teman maupun kerabat yang bisa untuk aku berbagi. Hidup yang selalu hening dan sepi. Bediri di sini sambil memandang langit sedikit bisa menghibur diri. Matahari menggelora merah tua dan sedih, aku bisa mencium bau bunga mawar di udara senja. Entah dari mana datangnya bau harum ini. Mungkin mawarku sedang bermekaran. Ataukah selubung misteri yang sedang menggelantung itu tertiup angin senja. Kemana burung-burung besi yang biasa terbang di sekitar sini? Biasanya suara gemuruh itu meraung-raung dan menggema keseluruh ruangan, kadang aku menyukainya karena bisa memecah kesunyian. Atau yang biasa aku lakukan adalah membunyikan televisi keras-keras biar terlihat kalau rumahku itu berpenghuni. Mungkin terlihat sangat konyol.

Setelah berlama-lama berdiri di loteng biasanya aku berbaring di tempat tidur di tengah kemarahanku yang mencekik. Tubuhku seperti ditusuk-tusuk jarum api, kemarahan terhadap diriku sendiri, terhadap ketidakberdayaanku untuk menghalangi sesuatu yang aku tau, tapi aku tak mampu. Aku seperti berada dalam terowongan gelap berkelok-kelok yang tak ada ujungnya. Semua tubuhku terasa panas bahkan seprai, bantal semuanya terasa amat panas. Sepanjang malam aku berbaring tak bisa tidur memikirkan banyak hal. Aku bangkit dan mengambil air kemudian bersuci memasrahkan semua pada-Nya. Jiwaku terasa damai setelahnya.

Hari-hariku kembali kurajut, menenggelamkan diri kedalam setumpuk tugas membuatku sedikit terlupa, atau bersapa dengan sahabat-sahabat yang baik hati membuat ketenangan jiwa.

Berhari-hari aku tak nafsu makan memikirkan ini. Hingga aku berada dalam belaian Tuhan untuk beberapa hari. Tubuhku melemah dan tak ingin apa-apa. Hanya ingin memejamkan mata saja. Ingin sekali aku bangkit dan berlari sekencang-kencangnya hingga semua beban yang ada terjatuh semuanya. Dan membuat aku berkeringat dan terengah-engah hingga suatu bunyi sedih berirama menyentak ingatanku kembali. Setiap detik jam yang berlalu bagai api terasa panas membakarku. Hingga aku berjanji pada diriku sendiri untuk bisa melupakannya. Aku akan mencoba mempelajari dunia yang telah terenggut oleh kesedihan dan kemuraman dalam kesunyian.

***

Aku pejamkan mata rapat-rapat untuk menahan airmata selama ini di suatu tempat di mana harapan yang tak masuk akal bersembunyi. Adakah selendang ajaib yang bisa melindungiku?

Aku bisa merasakan emosi bagai pusaran angin yang memilin hati melambung ke langit, kemudian terhempas ke bumi. Aku berlari menuju tempat biasa aku termenung seorang diri. Malam hampir berujung. Ada kerlipan cahaya berpendar-pendar keperakan menghampiriku. Cahaya itu begitu menyilaukan mataku. Kulihat seorang lelaki dengan sayap di punggungnya, yah… lelaki bersayap. Ia nampak tersenyum padaku. Susunan giginya sangat rapi dan mengagumkan.

“Maukah kau melihat negeri senja?” ucapnya mengagetkan aku.

Aku tercengang belum hilang rasa heranku kini dia mengucap kata “negeri senja”, bukankah negri senja yang diceritakan Seno Gumira Ajidarma adalah sebuah negeri yang sangat misterius, dan tak seorangpun tahu seperti apa negeri itu. Dan setiap orang yang pergi ke sana tak akan bisa kembali lagi. Apakah harus ke stasiun Tugu dulu untuk menunggu kereta yang akan membawa ke negeri senja? Meskipun kita tak perlu membayar tiketnya, kita hanya membubuhkan tanda tangan persetujuan bersedia untuk tidak kembali lagi. Aku masih termangu dan tidak percaya dengan apa yang barusan aku lihat dan aku dengar. Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benakku.

Lelaki dengan sayap keperakan itu memandangiku. Ada perasaan asing yang membelenggu seluruh tubuhku. Ada aroma kebahagiaan yang luar biasa menggetarkan hati dan jiwaku.

“Aku berasal dari negeri yang sangat jauh di atas langit sana, namanya negeri senja”

“Mengapa kau datang kemari?”

“Aku ingin membawamu ke negriku”

“Mengapa kau ingin membawaku?”

“Aku ingin melepas kesunyian dan kesedihanmu”

Aku tak tau apa yang aku pikirkan, tiba-tiba saja ada keinginan kuat dalam diriku untuk pergi mengikutinya. Aku perhatikan sayapnya begitu indah tertimpa cahaya lampu kota, matanya sangat tajam dan bersahaja, dia sosok yang memikat.

“Bisakah aku kembali pulang?”

Lelaki itu tersenyum penuh misteri, kecerahan nampak terpancar dari wajahnya.

“Apakah kita nanti akan naik kereta?” tanyaku lagi

“Itu tidak perlu”

“Terus, bagaimana kita ke sana nanti?”

“Kamu sudah siap?”

Aku mengangguk pelan, lelaki itu kemudian memelukku dengan erat, kulihat sayapnya mengepak perlahan, dan tubuh kami terangkat ke udara. Aku merasa seolah sudah melewatkan bertahun-tahun dari hidupku untuk mendorong batu karang dan mendaki gunung, begitu berhenti, batu itu langsung tergelincir jatuh ke dasar jurang. Begitulah perasaanku saat tubuhku terangkat ke atas. Kini tubuhku melayang –layang di udara tanpa harus naik pesawat. Terus naik dan naik. Aku melihat lampu-lampu jalan menaburkan genangan cahaya kuning di sekitar kami. Semakin tinggi terangkat nampak wajah bulan yang tersenyum manis semakin membesar. Kusaksikan juga berjuta-juta bintang menhampiriku dengan indahnya bagai ribuan kunang-kunang yang berpendaran.

“Aku akan membawamu ke negeri senja” bisiknya padaku

Angin berhembus lembut menepuk-nepuk wajah kami.

“Aku akan menghilangkan kesunyianmu” bisiknya kembali.

Aku ingin sekali segera sampai ke negeri senja.

“Bisakah kau terbang lebih cepat? Aku ingin segera sampai”

Kini dia mengepakkan sayapnya lebih cepat bagai burung rajawali yang sedang memburu mangsanya.

Hamparan langit jingga keemasan sangat luas dan indah memukau mataku. Dibawahnya ada hamparan biru yang sangat bersih.

“Selamat datang di negeri senja” ucapnya

Kini aku telah sampai di negri senja, negri yang telah diceritakan Seno Gumira Ajidarma. Dari kejauhan nampak barisan laki-laki dan perempuan bersayap berbaris rapi seperti hendak menyambutku. Wajah mereka berkilau-kilau bak arjuna dan bidadari . Senyum selalu mengembang menghiasi bibirnya.

“Tak ada lagi kesedihan di sini” ucap lelaki itu.

“Bersenang-senanglah kamu” ucapnya lagi

Kemudian aku larut dalam kebahagiaan bersama mereka, aku sentuh setiap kelopak bunga warna-warni sangat indah. Berlarian dengan riang. Sejauh mata memandang adalah hamparan bunga-bunga yang sangat indah. Buah-buahan juga menggelantung di sana-sini. Sungguh mempesonaku, keindahan yang belum pernah aku temui di tempat lain. Terdapat juga sungai yang airnya mengalir dengan pelan.

“Kamu bisa minum air itu sepuasnya”

“Aku boleh meminumnya?”

“Cobalah!”

Ini semua seperti mimpi, air ini terasa manis seperti madu.

“Inilah kebahagiaan abadi” Ucap lelaki itu meyakinkan aku.

Owh…, inikah negeri senja? Negri dalam dongeng dan kisah-kisah itu? Semua orang tampak bahagia di sini. Tak ada air mata, tak ada kesunyian, semua berubah jadi kebahagiaan. Dan aku tak akan bisa kembali lagi, ini sudah menjadi pilihanku. Dari sini aku hanya bisa meliahat orang-orang yang aku sayangi memandangiku penuh kepedihan.

This entry was posted in cerpen and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

47 Responses to Kesunyian membawaku ke "Negeri Senja"

  1. aji says:

    semakin lama tulisan-tulisan kamu susah kumengerti… apa itu artinya semakin lama kemampuan berpikirku semakin pudar?

    kalau kulihat selama ini tulisanmu penuh dengan majas hiperbola dan majas-majas yang lain… tulisannya jadi kayak puisi. hahaha ini komen gak profesional…

    aku sekarang lagi capek, baca ni tulisan aku jadi tambah capek.. tadi niatnya gak mau baca tapi dipertengahan cerita bahasanya udah mulai normal lagi…

    yaah average lah.. tidak memuaskan aku tapi gak da orang laen yang bisa buat kayak gini

    • radesya says:

      Siapa yang bilang kemampuan berpikirmu semakin pudar? Nggak lah..

      Kamu dah berusaha mengerti, itu kan bagus, jadi lama-lama juga akan mengerti

      thx ya, dah mau baca ceritaku..🙂

  2. Cerita ini indah sekali. Seperti bayangan setiap manusia yang ingin meraih kebahagiaan.
    Namun ketika kebahagiaan itu telah tercapai, mengapa mesti diakhiri dengan ending seperti itu?

    Dari sini aku hanya bisa melihat orang-orang yang aku sayangi memandangiku penuh kepedihan.

    Ah, Negeri Senja. Negeri yang tak setiap orang berani pergi ke sana itu…

    • marshmallow says:

      d’you know what, DM?
      pernah dengar pepatah ini: when you get something, someone has got to give? artinya tak lain adalah dialektika. saat sesuatu membuatmu bahagia, maka hal yang sama aka

    • marshmallow says:

      saat sesuatu membuatmu bahagia, maka hal yang sama akan membuat orang lain bersedih. mungkin semestinya tidak demikian, tapi apa boleh buat, itulah dialektika.
      (kenapa komentarku terputus ya, ra?) *heran*

    • radesya says:

      @DM
      Kakak benar banget! Ini memang menggambarkan manusia yang ingin mencapai kebahagiaan, melepas semua problem kehidupan yang ada..

      Mesti dikasih ending yang bagaimana dunk?

      @kak Marsh
      ya begitulah hidup kak, dialetika itu sering aku dengar kak.. kita cuma berusaha ja kan..

      Lho iya koq keputus ya kak..

  3. edratna says:

    Radesya…apakah kita semua ingin ke negeri senja itu…?
    Betulkah ada kebahagiaan di sana?

    Bukankah kebahagiaan harus dibuat, dan jika hanya lari ke negeri senja, puaskah kita, karena kita mendapatkan kebahagiaan karena meninggalkan hal yang belum selesai?
    Entahlah saya sendiri tak tahu jawabannya, namun selalu berusaha mencoba meraih kebahagiaan itu, yang kadang telah kita raih tanpa kita menyadarinya, karena kita selalu melihat orang lain.

    • radesya says:

      Mungkin bunda, andai saja aku jau jawabannya. Negeri senja bagiku hanya sebuah gambaran kehidupan dan kematian kita saja bunda, setiap orang pasti akan berusaha mencapai kebahagiaan dengan caranya masing-masing

  4. kezedot says:

    selamat malam

    siapakah gurumu sahabat
    biar blue belajar padanya?

    salam hangat dalam persahabatan

  5. racheedus says:

    Dalam hening dan sunyi, manusia kian mampu menyelam ke dasar jiwa. Bahagia di atas bahagia. Cinta di atas cinta. Itulah yang terus digapai. Hingga akhirnya manusia pulang pada-Nya memasuki negeri tiada benci tiada nestapa. Saat manusia berhasil melucuti selubung diri.

  6. Ata says:

    Hemm..Negeri senja, sepertinya punggung jiwaku yg gelap dan sepi merindukan tempat itu juga..

    Belaian Tuhan adalah tanda kasih dan perhatian pada umat-Nya..
    Lekas sembuh Ara🙂
    Juga cepetan cari pacar biar ga kesepian hahaha…

  7. shofiyah says:

    DAn terbangkan aku ke negeri senja..bisakah???

    *ngayallagimodeon*

  8. depz says:

    itulah persinggahan terakhir
    persinggahan yang penuh damai

  9. mal says:

    Kelebihan kehidupan dunia ini adalah merasakan nelangsa,bukankah dg nelangsa maka bahagia akan semakin manis.asal tidak selalu nelangsa saja hehehhe.
    bukankah manis tidak akan terasa jika tidak pernah merasakan pahit?

    • radesya says:

      manis memang tak akan pernah terasa manis kalau kita belum pernah merasakan pahit om..

      tapi kadang pahit juga menyenangkan kalau itu obat
      tapi aku nggak mau minum obat ah…
      hihihi…., nggak nyambung ya om…😀

      • mal says:

        Tuh .. kalau lagi flu tuh minum obat … jangan begadang mulu. ntar malem nonton bola yah xixixixixixi malah ngajak begadang😀

  10. bayu200687 says:

    fiuhhhh, negeri senja…
    ternyata rara juga baca tulisan seno gumira ya…
    negeri yang tak ada yang tahu, kecuali orang2 yang pernah ke sana…dan yang ke sana, tak pernah kembali…

    di peron stasiun itu…jika mampu, aku ingin mencegahmu, pergi ke negeri senja…

  11. kezedot says:

    selamat sore sahabat

    knapa tak mampir ke blue dan kezedot?

    salam hangat dalam persahabatan

  12. kezedot says:

    siang sahabat

    suka trus nich blue dengan postinganmu yg ini
    salam hangat dalam persaudaraan bloger

  13. Sungguh tulisan yang tingkat tinggi………fiuhhhhhhhhhhhhhhhhhh

    perlu pemikiran ekstra tinggi untuk memahaminya dan siapakah makluk Perak bersayap itu Sobat?

  14. Aden Kejawen says:

    Ceritanya bagus banget tapi aku susah memahaminya coz bahasanya itu loh……….Negeri Senja, Makhluk Perak bersayap……….*Lemot Mode ON*

    Maaf ya belum bisa memahami…

  15. senoaji says:

    menghirup senjamu, menjamu kerangka tuturmu

  16. hanhan says:

    Negeri senja, suatu saat aku pun akan pergi kesana dan kan kubangun istana megah di hamparan padang ilalangnya….

  17. itmam says:

    tulisan yang indah rara…🙂
    tetaplah tersenyum sebagai mentari kecil, biar redup cahayanya, akan tetapi mampu menghangatkan bumi🙂

  18. annosmile says:

    wah..
    cerita yang menarik

  19. achoey says:

    Adik
    A ada untuk sedikit cawan bahagia
    Hanya kau tak sempat meneguknya
    Tidak hanya A
    Banyak blogger yang menawarkan cawan bahagia itu
    Ambil dan teruslah kau teguk satu per satu
    Tak habis2 bukan🙂

  20. endingnya sedih…

    salam kenal🙂
    baru pertama mampir nich😉

  21. semalam aku merasakan kesunyian itu. . . ah,tidak, kurasa sunyi itu yang menemaniku,,

    wah, ceritanya keren nie mbak rara, imajinasinya keren v(^^)/

  22. kezedot says:

    selamat malam sahabat
    pa cabar?
    main dong ke kezedot lagi ok
    salam hangat dalam dimensi persahabatannya blue

  23. itmam says:

    pa kabar adikku? semoga di akhir pekan dapat menghilangkan kepenatan selama ini…🙂
    Semoga ^_^

  24. kezedot says:

    semoga malam minggunya tak sunyi ya
    salam hangat dalam dimensinya blue

  25. malam sahabat
    blue datang di postingan yg sering blue lakukan di atas genteng kalau ada masalah sedikit!
    salam hangat selalu

  26. widjaya Adhie_hatiqu says:

    emmm…
    negeri senja , seperti halnya negeri tanpa kata, tanpa kamus, tanpa suara, hening, sunyi… dan mampu menciptakan dunianya sendiri.

  27. tapi negeri senja yang engkau ceritakan di sini sepertinya semacam paralax, sebuah kesedihan yang dihias dengan begitu indah.
    jadi inget kisah-nya Pan’s Labyrinth…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s