Bisakah Kami Yang Miskin Bermimpi?

Aku pernah mendapat pertanyaan itu dari seorang sahabat. Namanya Luky, dia tidak seberuntung seperti namanya. Kebetulan dia terlahir dari orang tua yang tidak mampu. Tapi dia mempunyai semangat yang tinggi untuk terus bersekolah. Sebelum berangkat ke sekolah, dia biasa mengantar koran dan sepulang sekolah dia berjualan. Uang hasil kerjanya itulah yang dipakai untuk membeli buku, meskipun sekolah sudah “digratiskan”, tapi kenyataannya masih memerlukan banyak biaya.

Luky adalah salah satu contoh potret anak negri ini yang memiliki mimpi, tapi karena ketidakmampuannya itu, dia harus mengubur mimpinya. Bagaimana ia bisa mewujudkan mimpinya itu karena dengan mewujudkan mimpi itu dia harus mempunyai uang untuk tetap sekolah. Sementara sekolah sekarang biayanya sangat mahal bagi anak seperti Luky. Untuk bisa mendapatkan beasiswa dia harus menjadi pintar terlebih dulu, padahal dia hanya memiliki kemampuan yang biasa saja. Jika Luky masih ingin mengejar mimpinya, maka Ia harus bersaing dengan ribuan orang dengan mimpi yang sama untuk bisa mendapatkan beasiswa.

Ada lagi teman kecilku yang memiliki nasib hampir sama seperti Luky, namanya Zera. Sekarang dia baru lulus SD, dari dulu dia ingin sekali melanjutkan ke sekolah A, kebetulan dia anak yang cerdas. Tapi sayangnya dia juga miskin. Sekolah A itu , sekolah favorit di kotanya. Yang bisa diterima di sekolah A hanya anak-anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Sebenarnya Zera itu memiliki kriteria untuk bisa masuk di sekolah A, tapi sayangnya dari segi finansial dia tak masuk kriteria. Karena sekolah A adalah sekolah yang berlabelkan RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional). Untuk bisa bersekolah di situ membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan terpaksa dia harus mengubur mimpinya agar bisa sekolah di sekolah A. Tapi Ia masih beruntung, karena ia memiliki otak yang cerdas, jadi ia masih bisa mengejar mimpinya di sekolah yang lain.

Ada lagi cerita, dia juga anak yang miskin. Bahkan buat makan sehari-hari saja sungguh sangat berat. Tapi anak ini masih ingin sekolah. Bapaknya sudah berusaha kesana kemari, banting tulang agar anaknya bisa melanjutkan sekolah. Tapi sayangnya, uang itu belum terkumpul. Hingga akhirnya bapak itu harus menyerah. Sang bapak harus merelakan anaknya tidak sekolah karena dia sangat miskin. Ada seorang tetangga yang sangat iba, kemudian dia memarahi bapak tersebut.

“Anakmu itu harus tetap sekolah, kasihan dia” ucap tetangga itu.

“Biarkan saja, sekolah juga akhirnya tidak jadi apa-apa” ucap bapak itu.

“Lho, kamu ini gimana, bagaimana bisa pintar kalau tidak sekolah!” ucap tetangga itu marah.

“Ya sudah, bawa saja anakku, sekolahkan sana!” ucap bapak itu kesal.

“Baik, aku akan sekolahkan dia”

Kemudian tetangga itu membawa anak bapak untuk disekolahkan, tapi selang beberapa hari, tetangga itu balik lagi ke rumah bapak, sambil mengantarkan anak yang kemaren baru dibawa.

“Maaf pak, saya tidak jadi menyekolahkan anak bapak” kata sang tetangga pelan.

“Kenapa pak?”

“Saya tidak mampu membayar uang masuknya yang sebesar beberapa juta itu”

Dari cerita ini, lagi-lagi anak Indonesia harus mengubur mimpinya karena tidak bisa sekolah. Sungguh sangat disayangkan. Bukankah jika anak-anak Indonesia pintar semua, tak akan ada lagi kemiskinan. Jumlah pengangguran juga akan berkurang. Kalau jumlah pengangguran berkurang, pastilah tingkat tindakan kriminal akan berkurang. Karena pendidikan adalah hak setiap anak di Indonesia. Sungguh aku sangat prihatin melihat keadaan ini. Mungkin yang bisa aku lakukan Cuma sedikit membantu mereka belajar. Aku tak mampu mendirikan sekolah. Andai saja selogan “Sekolah gratis” itu benar-benar gratis, mulai dari biaya sekolah, buku-buku dan sedikit uang saku gitu. Pastilah anak-anak Indonesia cerdas semua.

Memang sih dari ribuan anak miskin ada di negri ini ada yang berhasil meraih mimpi-mimpinya, tapi itu hanya beberapa persen saja. Itupun karena faktor keberuntungan yang berpihak padanya. Masih banyak ribuan anak miskin yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa meraih mimpinya. Semoga saja pemimpin yang terpilih benar-benar bisa melanjutkan perjuangannya memimpin negri ini. Dan bisa memperhatikan dunia pendidikan secara maksimal.

This entry was posted in Kehidupan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

29 Responses to Bisakah Kami Yang Miskin Bermimpi?

  1. Slogan sekolah gratis itu kurang jujur karena tidak semua gratis.
    Bicara pendidikan kita, bicara kepedihan.
    Banyak yang punya mimpi kandas dan saya prihatin.

    Namun keprihatinan tidak cukup untuk menyelesaikan, harus ada tindakan nyata.
    Puji Tuhan di gereja di fasilitasi untuk bisa menjadi orang tua asuh bagi anak2 tidak mampu.

    Drpd mengharapkan suatu langkah besar dari pemerintah (yang saya rasa bisa memakan waktu yang agak lama)
    mariiii kita melangkah dengan satu langkah kecil. Lihat sekitar kita, jika mampu mari jadi orang tua asuh.
    Kalo kurang cukup, bisa urunan dengan beberapa orang untuk jadi orang tua asuh🙂

    salam, EKA

    • radesya says:

      benar tuh kak.., aku juga berusaha semampu aku untuk membantu mereka kak…, andai saja semua orang berpikir seperti kak Eka, pasti banyak anak yang pintar🙂

  2. aji says:

    tulisan yang bagus, ntar pasti masuk surga… selamat ya…

  3. Jamal eL Ahdi says:

    Aku melihat tangan sekolah yang berupa biaya melambai dan berkata : Selamat Tinggal Orang Miskin… Bye Bye

  4. Desya…
    keluhan ini sudah aku dengar sejak aku masih kecil yang tentunya sudah terjadi berpuluh tahun. Tapi akhir-akhir ini aku semakin mengurut dada, karena untuk sekolah negeri saja harus mempersiapkan dana, hanya karena sekolah favorit. absurd.

    Memang pendidikan gratis tidak bisa sepenuhnya gratis. Di sini SD dan SMP gratis, tapi biaya makan, alat ketrampilan (buku dari pemda) masih harus dibayar ortu murid. TAPI, jika tidak bisa bayar bisa mengajukan ke pemda dan mendapat bantuan dari Pemda. Aku pikir dengan adanya otonomi daerah skr ini, kenapa sih tidak ada daerah yang mau memperlihatkan bahwa daerahnya mampu membiayai pendidikan dengan APBD nya.

    EM

  5. depz says:

    setuju dengan komen dan usul eka🙂

  6. bayu200687 says:

    Mari bermimpi

    Aku bahkan kian tak paham
    Pada gugur tapak kamboja
    Di atas pekuburan
    Di atas namanama
    Mungkin juga kita
    Terselip di antaranya

    Juga ketika anyir nafasmu
    Ku ungsikan dalam botol kaca
    Bersama pijar rembulan
    Dan badai yang andai

    Mungkin
    Melati masih terlalu suci
    Sementara kulit makin penuh duri
    Ah…. Sudahi saja
    Pagi ini
    Mari bermimpi
    lagi!

  7. Zulhaq says:

    hhmmm rara rara, jiwa sosial dan kepedulianmu memang luar biasa
    indah banget, hebat banget, manis banget…

    yah, semoga negara ini akan menjadi lebih baik
    semoga pendidikan di kedepankan
    jadi, miskin kaya punya mimpi yang sama, punya asa yang sama

    Selamat Pagi Rara….Salam Hangat!!!

  8. narpen says:

    ahh.. begitu ya desya..
    saya pikir sekolah gratis itu bener2 gratis? belum pernah sampai survey2 sih.. terima kasih sudah mengingatkan..
    berhubung sekarang sudah punya penghasilan (biarpun dikit), sepertinya nasib mereka juga masuk sebagai kewajiban saya..
    memang cukup jauh klo berharap sepenuhnya dari pemerintah.. seperti kata aa gym, mari dimulai dari diri sendiri..

  9. kawanlama95 says:

    benara mimpi nya belum jadi kenyataan. Jadi sekolah dengan kriteria khusus memang hanya utk orang2 khusus yang punya uang. ya terpaksa dah di sekolah biasa dan mendapatkan yang biasa2 juga. tidak adil memang. barangkali nanti si luck dan kawannya bisa lebih mandiri dan menjadi anak pintar di luar sekolah ya .moga

    • radesya says:

      RSBI memang untuk kriteria khusus kak, meskipun aku juga lulusan sekolah RSBI, tapi emang tarifnya beda…

      semoga adik-adik kecilku itu bisa terus sekolah

  10. gerrilyawan says:

    lama nggak kesini ra…
    sekolah gratis memang nggak sepenuhnya gratis. kalau mau bebas biaya prosedurnya berliku-liku karena masih ada pejabat yang berfilosofi kalau bisa sulit kenapa dipermudah…

    mudah-mudahan pemimpin selanjutnya bisa membantu masalah ini…

    dan yang penting semangaaat!

  11. aliyah says:

    hmm…kapitalisasi pendidikan itu…

  12. Zulhaq says:

    selamat pagi rara…

  13. Afdhal says:

    ya betul,sekolah gratis masih jadi slogan (entah sampai kapan)…
    walopun belum ada yang bisa kita lakukan secara fisik kpd mereka, tapi setidaknya Doa buat mereka sementara ini cukup.
    mudah2an tidak ada lagi anak2 yang tidak mampu bersekolah.
    Aminn

  14. RenXe says:

    betul ra. aku setuju dengan tulisanmu. banyak saudara kita yang harus berjuang mati2an mengejar mimpinya. selain biaya, berkaitan pula hubungannya dengan mutu pendidikan di negeri ini yang masih buruk. jadi, mampu bayar pun belum tentu pintar. lihat saja, banyak lulusan sarjana yang masih menganggur…

    tapi setidaknya, dengan bisa bersekolah, mereka semakin dekat dengan cita2nya.

  15. shavaat says:

    padahal, lewat pendidikanlah orang paling mungkin bisa merubah nasib. bapaknya loper koran, mungkin anaknya bisa jadi wartawan. anaknya supir angkot, mungkin anaknya bisa jadi pilot…
    kalau tidak sekolah, bapaknya supir angkot, mungkin anaknya tetap supir angkot, atau pekerjaan setara dengan itu…

  16. zediens says:

    terus berkarya…..
    good……good…..

  17. y says:

    becek ketitik olo ketoro……………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s