Catatan Perjalanan ke Dataran Tinggi Dieng

Perjalananku dimulai dari kotaku menuju Semarang, setelah satu hari berada di Semarang, aku sama kakak langsung menuju Jogja, karena ada urusan yang harus diselesaikan di Jogja. Sebenarnya aku harus banyak istirahat, karena baru saja sembuh dari sakit, tapi rasanya aku ingin sekali pulang ke Semarang untuk berziarah tentunya. Sekaligus memberikan surat-surat yang aku tulis selama ini. Tentu saja doa yang tak pernah putus dan setanggi bunga.

Rasaku melayang bahagia, karena aku bisa kembali ke kotaku lagi. Mungkin ini cuma perjalanan singkat penghilang penat. Bukan liburan yang diinginkan. Tapi sudah bisa bikin hati senang. Setelah serangkaian perjalanan aku lalui, aku kembali tak berdaya. Mungkin perbedaan cuaca yang panas luar biasa. Tapi aku sangat bersyukur bisa segera membaik. Hingga bisa melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini tujuannya pergi ke Dieng, yang sering di sebut Dataran Tinggi Dieng atau Dieng Plateau. Ini bukan kali pertama aku ke Dieng, karena dulu aku juga pernah datang ke Dieng.

Sang raja siang telah menampakkan sinarnya. Kami berlima berangkat dari Semarang menuju kota Wonosobo. Perjalanan ini terasa berbeda, karena aku merasa sangat senang sekali, karena aku pertama kali bisa menelan makanan secara nyaman, bisa bicara lagi dengan nyaman tanpa sakit, karena berhari-hari tersiksa menahan sakit luar biasa. Melihat pohon-pohon berjajar kehijauan terasa sangat indah. Kami melewati jalan Temanggung menuju kota Wonosobo. Dari Semarang ke Wonosobo mungkin memakan waktu sekita dua setengah jam perjalanan. Perjalanan panjang , berkelok tak terasa oleh kami. Saat tiba di kota Wonosobo udara dingin mulai terasa pada kulit kami. Pohon- pohon terlihat begitu hijau. Di sini beda sekali dengan kotaku yang penuh dengan deretan gedung bertubuh beton, rumah-rumah kaca atau apartemen-apartemen kaca yang membuatku menahan tawa tiap kali menyaksikan arsitektur ironis untuk sebuah negeri tropis seperti Indonesia ini. Menambah global warming saja.

Dari kota Wonosobo perjalanan kami lanjutkan langsung menuju Dataran Tinggi Dieng. Dari Wonosobo ke Dieng memakan waktu sekitar satu jam perjalanan. Aku sudah tak sabar ingin segera sampai tujuan. Dan kami akhirnya menginjakkan kaki di Dieng. Aku segera ,mengeluarkan perlengkapan yang telah aku persiapkan, karena begitu kami turun dari mobil, hawa dingin langsung menusuk tulang. So.., bagi kalian yang hendak pergi ke Dieng, persiapkan perlengkapan seperti jaket tebal, kaos tangan, kaos kaki, penutup kepala agar bisa mengurangi hawa dingin di sini. Kami berlima langsung menuju ke salah satu rumah makan untuk melepas lelah sekalian mengisi perut kami. Setelah istirahat sejenak , dan perut sudah terasa enak karena telah terisi, kami segera memulai perjalanan untuk mengelilingi Dieng, rencananya kami tidak akan menginap. Mungkin akan pulang malam sih. Jadi mungkin waktu untuk mengelilingi Dieng agak sempit dan akan melelahkan.

Dataran Tinggi Dieng merupakan dataran tinggi yang terbentuk oleh kawah gunung berapi yang telah mati. Dulunya Dieng adalah tempat untuk pemujaan sehingga jika kalian ke sini maka akan menjumpai banyak sekali bangunan-bangunan suci untuk agama Hindu. Konon di dieng ini adalah tempat para arwah para leluhur bersemayam. Dan ada banyak candi bisa kita temukan di sini. Ada Candi Bima, Candi Dwarawati, Candi Gatut Kaca, Candi Parikesit yang konon katanya masih menyimpan kekuatan magis.

candi dieng

candi dieng

Selain terdapat banyak candi, di sini juga masih banyak kita jumpai kawah yang masih aktif dan masih mengeluarkan asap tebal. Diantaranya kawah candradimuka dan sumur jalatundha. Namanya mengingatkan aku saat naik ke gunung lawu, apa ini ada hubungannya ya? Ah entahlah…, rasa-rasanya di Jawa ini banyak sekali nama sepert itu.

Telaga warna

Telaga warna

Setelah menikmati keindahan candi perjalanan kami lanjutkan ke Telaga Warna. Ini adalah tempat yang paling aku suka. Jika kalian berada di tempat ini, maka segala penat, pusing, akan terasa hilang menyaksikan keindahan mahakarya Tuhan yang sempurna. Ini mungkin juga tempat favorit bagi pengunjung di sini, selain lokasinya tidak begitu jauh dari jalan raya, tempatnya juga sangat asri, jalanan yang kami lalui juga baik. Di Telaga Warna ini kita dapat melihat tiga warna telaga, warna hijau, warna agak biru dan warna coklat. Telaga warna ini berada tepat di dalam kawah dengan kedalaman antara 10 sampai 20 meter terkadang masih mengeluarkan gelembung gas di permukaan telaga. Dan akan tercium bau belerang.

Sebenarnya masih banyak tempat yang belum kami kunjungi, tapi senja begitu saja datang menyapa. Dan itu tandanya malampun akan tiba. Dingin begitu menusuk-nusuk tulang belulangku. Padahal seluruh tubuhku ini sudah tertutup semua. Hingga yang terlihat cuma mata doank, tapi tetap mati rasa karena kedinginan. Sebenarnya di sini masih ada banyak telaga, ada telaga Pangilon yang belum kami kunjungi. Masih ada goa yang juga belum kami kunjungi. Tapi waktu kami memang sangat terbatas. Setelah makan malam kami lanjutkan perjalanan pulang ke semarang. Meskipun Cuma perjalanan singkat, aku sangat begitu senang. Masih diberi kesempatan mengunjungi tempat ini untuk yang kedua kali.

(Maaf, tak bisa menampilkan foto keseluruhan, sudah aku coba upload tapi gagal mulu, filenya terlalu besar)🙂

This entry was posted in Petualangan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

40 Responses to Catatan Perjalanan ke Dataran Tinggi Dieng

  1. narpen says:

    Wah desya jalan-jalaannn…
    Banyak makan ya desya, biar cepat fit lagi🙂
    Aku belum pernah ke Dieng, Desya.. malah agak jarang denger juga.. Kirain si telaga tiga warna itu letaknya di luar pulau jawa😀
    Tampak menarik nih buat dikunjungi..
    Mau nganterin, desya?

    • radesya says:

      Iya kak, aku dah makan banyak koq..

      Dieng sangat indah kak, meskipun udaranya dingin, apalagi telaga warna, tapi kalau ke dieng jangan pas musim hujan kak, ntar air telaganya tidak tiga warna, tapi akan banyak didominasi warna hijau saja

      mau dunk, desya siap jadi tour guide nya deh🙂

  2. hmmm kalau ada kesempatan ingin ke Dieng juga.

    kalau mau upload foto, fotonya kecilkan dulu pakai photoshop/program lain… kalau terlalu besar memang sulit. kecuali upload dulu ke photobucket.

    EM

  3. AtA chan says:

    Sepertinya gak ada habisnya membahas keindahan alam bangsa ini..
    Smoga suatu saat bisa berkunjung ke dataran tinggi dieng..
    Aku bangga dengan tanah air ini dan aku cinta Indonesia..

  4. accan says:

    wah mengingat kan tentang Dieng ig,,, 🙂

    banyak kenangan di sana ma temen2 accan..🙂

  5. morishige says:

    pengen banget ke sana.. hiks, hiks..

  6. edratna says:

    Nahh gitu..jalan-jalan ke tempat sejuk, biar makan banyak.
    Dulu saat masih aktif, saya sering ke Dieng, ada klien yang punya usaha di Wonosobo-Dieng, tidurnya di Wonosobo….pagi2 lari …wahh badan sehat sekali karena hawanya segar…tidur nyenyak dan makan banyak.

    • radesya says:

      Wah, iya bunda, kalau udara dingin jadi pengen makan terus, tapi desya sekarang dah makan banyak koq, jadi tambah agak chubby🙂
      udara di sana memang sejuk dan segar, tapi dingin banget..

  7. Zulhaq says:

    wahhhh, jadi kangen auy ma wonosobo
    aku dl tiap liburan pasti kesana
    sahabatku disana ra….

    kapan2 kesana lagi yukzzzz he2

  8. Jamal eL Ahdi says:

    untuk Resize Foto bisa ke tinypic.com atau kalau mau pake irfanview bisa resize ukuran pic.

    wono = wana = alas = hutan
    sobo = dolan = main

    wonosobo = main ke hutan hehehhehe.

    hiruplah dan penuhi paru2mu dengan kesegaran udara alam.

  9. jack says:

    jalan-jalan koq gak ngajak2.. hehe
    ntar masukin lagi fotonya ya… biar makin seru

  10. Rigih says:

    begitu sembuh langsung jalan-jalan…
    hmmm, kapan ya aku bisa menikmati perjalanan tanpa beban…?

    • radesya says:

      Iya kak, padahal sebenarnya suruh istirahat ma dokter, tapi aku memang bandel, nggak tahan tiduran mulu..

      Kalau sedang dalam perjalanan nggak usah bawa ransel kak, biar nggak da beban😀

      kapan” kita jalan” yuk, sama kakak ipar juga🙂

  11. indra1082 says:

    Kapan yah..ke dieng?? ❓

  12. Wooow
    red thanks bgt ya foto soal telaga warnanya🙂
    bisa buat bahan referensi kalo liburan
    kereeeeen bgt yah

  13. RenXe says:

    duluu banget pernah ke dieng…waktu kecil. sekarang sudah lupa kaya apa ya…

    ntar kapan2 kesana bareng yuk ^^

  14. Afdhal says:

    ke candi gedungsongo keren tuh ra🙂

  15. KangBoed says:

    Waaaah.. cakeeeeep.. dingiiiiiin.. sejuuuuk.. dah lama enda mampir
    Salam Sayang

  16. depz says:

    ho ho ho
    telaga nya indah
    hmmm
    kapan ya bisa ksana

  17. achoey says:

    Wah, asyik ya
    Pastinya di sana memang indah
    Seindah apa yang terasa di hatimu, adikku🙂

  18. racheedus says:

    Desya, titip bawakan aku sebongkah awan dari Dieng sebagai tanda mata rihlahmu.

  19. shofiyah says:

    uwahhhhhhh..mbak belum pernah kesana,, jadi pengen >_<

  20. Fickry says:

    ya.. saya sudah dua kali ke Wonosobo.. Carica dan Mie Ongkloknya memang ngangenin…hehe

  21. bener, telaga tiga warnanya cuma jadi satu warna aja waktu aku ke sana…😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s