Berkaca Diri

Pernahkah kau merasa, tubuhmu bergetar hebat, menahan lapar dan haus bukan karena kau sedang berpuasa, melainkan kau sama sekali tidak punya uang untuk makan. Kemudian kepalamu terasa pusing berdentum-dentum seolah sebongkah balok kayu menghantam kepalamu dan matamu berkunang-kunang, jiwamu redup, tak ada lagi semangat untuk hidup. Karena sudah tidak ada lagi yang kau gunakan untuk menyambung hidup. Rambutmu semuanya telah memutih, tubuhmu ringkih, kulitmu penuh dengan kerutan di sana-sini. Garis-garis duka lara membujur turun dari dahi ke dagumu.

Jika gelap mulai turun, angin malam terus mengoyak tubuhmu yang memang sudah tinggal tulang belulang. Kemudian saat hujan turun, tubuhmu menggigil kedinginan, basah kuyup, bibirmu retak, biru, mati rasa karena kau tak punya tempat berteduh yang biasa disebut “rumah” atau “tempat tinggal”. Kau hanya diam terpaku memandang buliran air hujan yang menetes pada pohon-pohon yang meliuk, mengangguk-angguk diterpa angin kencang. Dan kau biarkan tetesan-tetesan air itu bercipratan mengenai wajahmu dan menderas di seluruh tubuhmu, dan menjadikannya basah kuyup. Rambutmu kusut masai, sekusut hatimu yang tak punya harapan. Tatapan matamu kosong, sekosong perutmu yang telah lama tak terisi.

Jeritan cacing yang merintih-rintih di perutmu adalah nyanyian kesunyianmu. Bunyi gemericik dalam perutmu membawa ritme yang cepat setiap saat terdengar sebagai lagu wajib bagi tubuhmu. Kau tak bisa bergerak, bahkan bergeserpun tak sanggup. Yang menandakan kau masih hidup adalah nafasmu yang masih naik turun pelan, dan matamu yang sesekali masih berkedip saat serangga mengendusmu. Dan kau hanya bisa mengakhiri malammu dengan banjir kenangan. Kau hanya bisa membayangkan masa mudamu yang indah penuh tawa bersama keluargamu yang tinggal entah dimana. Kau hanya bisa mengingat, dan karena ingatanmu itu kau semakin menderita. Nyanyian duka di ujung usiamu yang senja.

Apa yang bisa kau lakukan? Meminta-mintapun kau sudah diharamkan. Bekerja? Apa yang bisa kau kerjakan? Siapa yang mau memperkerjakanmu? Mungkin yang hanya bisa kau lakukan hanya menunggu, yah…, menunggu saat malaikat maut membebaskanmu dari deritamu itu. Atau kau hanya menunggu para penderma mulia yang akan menolongmu.

Di bulan Ramadan ini sebaiknya kita berkaca pada mereka, kaum tua yang tersisihkan, hidup jadi gelandangan, tanpa tempat tinggal. Hidup sendirian dan sebatang kara. Kelaparan dan menderita. Aku bayangkanlah jika aku yang mengalami hal seperti itu, hingga aku tau rasa bersyukur atas karunia yang telah diberikan Allah padaku. Di bulan yang penuh berkah ini, tak ada salahnya jika kita bisa berbagi dengan mereka. Semoga Allah menerima amal ibadah kita. Amien…

This entry was posted in Kehidupan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

56 Responses to Berkaca Diri

  1. alamendah says:

    Kita memang perlu berhenti sejenak untuk melihat bayangan wajah kita…

  2. sayangnya keberadaan mereka yang memang betul membutuhkan ditutup oleh tindakan “pengemis jadian” yang sudah menjadikan manusia jakarta malas untuk bersedekah.

    Di jepang tidak ada pengemis, adanya gelandangan. sebuah masalah yang cukup memusingkan pemerintah daerah.

    EM

  3. terpaku bacanya…. terdapat jiwa kemanusiaan yg tinggi disini…mengerti akan derita orang lain, belajar saling berbagi, mengingat masi banyak yg kekurangan di luar sana…

    Nauzubillah tubuh menggigil kedinginan krn ga ada tempat berteduh..

    ingatlah di dalam rezekimu 2,5% adl hak anak yatim, fakir miskin dan orang terlantar.
    nice post ra….🙂

  4. aa says:

    @imelda mengemis kan memang dosa. bukan semata karena adanya pengemis jadian…

    @rara yay! bagus deh diharamkan tuh mengemis. tapi kata-katanya berlebihan, tinggal nunggu mati aja tuh

    • AtA chan says:

      @aa : Dosa atau enggak hanya Allah yg tau, pengemis juga manusia bro…
      Bener kata Ara -berkaca diri-, apa kita sudah lebih baik dari orang yg duafa itu…

      • Zulhaq says:

        yah, semua kembali pada bagaimana kita menyikapinya…
        dalam kehidupan ini, siapapun membutuhkan orang lain, termasuk kita. sama-sama saling butuh, sama-sama harus saling tolong menolong. hanya saja, keadaan mereka kurang beruntung dair kita, jadi, wujud dari tolong menolongnya berbeda.

        kalo kita sering minta tolong pada orang lain untuk menyelesaikan masalah, apakah di bilang dosa juga??? karena mereka itu juga minta tolong, tapi berhubung masalha mereka adalah masalah perut, jadi yang di minta adalah kedermaan untuk menyambung hidup mereka.

        kita punya masalah, mereka punya masalah. beda kepala beda masalah. mari kita kembali merenungi lagi siapa, darimana, dan akan kemana kita ini. di mata tuhan, semua sama. materi bukanlah suatu perbandingan dan tolak ukur. urusan pahala dan dosa adalah allah yang menentukan, bukan manusia. manusia hanya bisa berusaha dan beribadah dalam mencapai cinta dan ridho-NYA

      • Aa says:

        Apa maksudmu? Mengemis i2 memang dosa tau… Jangan membenarkan hal seperti i2. Hati2…

      • radesya says:

        @Aa
        mengemis itu bukan dosa meskipun sebenarnya tangan yang berada di atas itu lebih baik dari pada tangan yang berada di bawah. “CUMA”, pengemis jadian ( orang yang mampu bekerja , sehat fisik dan akal pikiran) itu seharusnya jangan mengemis, karena termasuk pemalas, dan Allah membenci orang pemalas.
        @Ata
        iya Ata, dengan berkaca diriberharap kita bisa merasakan apa yang mereka rasakan, sehingga kita bisa berbuat lebih baik
        @Zia
        Bener sekali kak Zia…, hidup itu selalu berdampingan

      • rismaka says:

        Mengemis adalah sesuatu tindakan yang terjadi “karena keterpaksaan”. Dan keterpakasaan itu dapat menghalalkan yang haram. Pada kasus “mengemis karena terpaksa”, maka status hukumnya adalah mubah/boleh, namun ia tetaplah hina.

        Berbeda halnya dengan “mengemis karena profesi/pekerjaan”, maka itu tetap dihukumi dengan haram alias berdosa. Allahu a’lam.

  5. Zulhaq says:

    keempatxxxxxxx

    rapuh, terpuruk, kau jalani dengan penuh pengharapan, kau jalani dengan segala ketegaran. kau coba bertahan walau tanpa pertahanan. kau coba tersenyum walau tanpa senyuman, kau merasa hidup walau tak ada kehidupan.

    Sepi…sendiri…sunyi…membeku…tak pernah mematahkan semangatmu untuk tetap menatap apa yang bisa kau tatap, meskipun terkadang tatapn hanyalah kosong belaka. semua itu kau jadikan teman yang senantiasa menghabiskna waktu denganmu. begitu kau setia pada kesunyian di tengah keramaian yang tak berpihak.

    kau tak banyak berkata-kata, kaupun tak banyak menyumbangkan suara, karena suara itu telah beralih pada perutmu yang selalu bernada dengan bunyian kekosongannya, bunyian rasa inginnya akan tersentuh oleh secuil makanan. terkadang, di perutmu terasa ada arus yang mengalir, suaranya begitu deras, sedangkan itu hanya wujud dari kekeringanmu.

    apa yang bisa merubahmu???
    siapa yang akan merubahmu???
    bagaimana kau membayangkan sebuah perubahan???
    apa nggak tau? bahkan nggak kenal dengan yang namanya berubah???

    Semua tak kau hiraukan, karena memang tak ada yang mengajarkan kehiruan akan kondisimu. yang kau tahu, hanyalah sebatas hidup ini adalah proses yang harus dijalani. hidupa hanyalah perjuangan dalam penantian. kau hanya berpasrah, hingga kau di panggilnya kembali.

    suka duka, sedih tawa, tangios tertawa, bahagia menderita, kau tak bisa membedakan bentuknya, kau tak bisa membedakan artinya, bahkan kau tak bisa membedakan rasanya. semua sama saja dimatamu dan di hidupmu…

    Terimakaish telah mengajarkanku apa arti sebuah rasa syukur, apa arti perjuangan dan pertahanan. kau ajarkanku bagaimana menghargai, kau ajarkanku bagaiman menikmati, kau ajarkanku arti sebuah senyuman…

  6. racheedus says:

    Sebagai orang yang pernah menjalani hidup di perantauan sebagai anak kost, saya pernah mengalami hal itu. Puitis banget rasanya. Hm….

  7. Jamal eL Ahdi says:

    Puasa selain dilihat dari sisi religi -untuk mendapat gelar taqwa- juga dapat dilihat dari sisi sosial.
    Puasa mengajarkan kita untuk tidak jumawa, sadar betapa tidak enaknya ketika lapar, yang kemudian diharapkan mampu menumbuhkan solidaritas sosial dengan memberikan infaq, sadaqah dan zakat.

  8. Baceo says:

    Perlu berulang2 baca. jazakallah…🙂

  9. cenya95 says:

    becermin merefleksikan diri.
    semoga tampak baik dan buruk diri ini
    salam

  10. Afdhal says:

    mari kita berkaca…
    “semua kembali kepada niat”

  11. frozzy says:

    so touchy…mengingatkanku pada bapak2 tua pedagang telur puyuh di pasar tebet, bagaimana kalau dagangannya tidak laku hari itu ? masihkah ia bisa makan ? setidaknya dia masih berusaha, berusaha melanjutkan hidup. lantas bagaimana dengan pengemis jadian atau peminta2 yang pernah menyolok mata saya ketika saya tak memberi ? ah,…seharusnya mereka malu pada si bapak pedagang telur puyuh itu.

    • radesya says:

      aku juga pernah bertemu dengan kakek tua renta yang masih bekerja, jalan kaki keliling gitu sambil memikul dagangannya, kepayahan. Tapi tetap semangat.

      Namanya ja pengemis jadian, tentu mereka sering berbuat kasar apabila tidak diberi. Iya bener sekali, seharusnya mereka malu . Kita doakan saja semoga para pengemis jadian itu bisa bekerja dan tidak jadi pengemis lagi.

  12. Mr. Handsome says:

    OH MY GOSH!! bahasanya puitis bangeett… wohohohoho :excited:

  13. nakjaDimande says:

    tak kubagi makanan pada yang menahan lapar
    sebenarnya siapa yang kubiarkan lapar..

    tak kuulurkan tangan sejuk pada yang sakit
    sesungguhnya siapa yang kubiarkan sakit..

    masih tak kusapa jiwa yang sepi..
    entah siapa yang tak kupedulikan itu..

    aku membiarkan diriku lapar
    aku membiarkan diriku sakit
    aku membiarkan jiwaku sepi

    kau tahu.., sebenarnya aku menyakiti diriku sendiri..

    [tulisan desya diatas bagus sekali, bundo jadi pengen naroh puisi di komennya, boleh yaaa..]

  14. geRrilyawan says:

    semoga kita semakin peka dan sadar diri…selalu bersyukur atas nikmat-Nya.

  15. lena says:

    saya pun kurang setuju dg kegiatan ‘mengemis’. selain menunjukkan budaya malas, budaya ‘berbohong’ pun muncul seiring jika yang mengemis adlh pengemis jadi2an.
    tapi saya rasa, pemerintah pun perlu berfikir lebih jauh bagaimana nasib pengemis real/nyata jika mengemis dikharamkan. Bagaimana nasib orang yang sudah tidak poduktif, orang yang tak punya sanak saudara, orang2 yang tak punya modal untuk usaha, orang tak cukup pandai untuk mengolah modal untuk menjadi pemasukan?? apakah mengkharamkan mengemis saja CUKUP untuk menyikapi para GEPENG (gembel dan pengemis)?

    apa andil pemerintah? saya jadi ingat sebuah pasal dai undang-undang yang isinya kira-kira begini
    ‘gelandangan dan pengemis dipelihara oleh negara’.
    LALU?

    • rismaka says:

      Masalah seperti in jangan hanya diserahkan kepada pemerintah mbak. Kita semua berkewajiban memikirkannya🙂

      “Allah tak akan merubah suatu kaum, hingga kaum tersebut merubah keadaan diri mereka sendiri”

      Kuncinya adalah Tegakkan tauhid, menjalankan sunnah, meninggalkan bid’ah, tegakkan shalat, melaksanakan zakat….dll

      Buat rara: Ga usah pake “thx” ya:mrgreen:

  16. Fickry says:

    Ramadhan kali ini saya mengalami degradasi..😦

  17. Prasetyo Muchlas says:

    Berkaca diri..
    Hmm.. Puasa tak hanya menahan dir dari rasa lapar dan haus.. juga untuk menjadikan kita lebih taqwa jika benar-benar menjalankannya.. dengan kesungguhan dan keikhlasan ^^
    Semoga ‘amal yang kita kerjakan diterima oleh Alloh..
    tentu harus memenuhi 2 syarat, Ikhlas dan Benar (mengikuti petunjuk Nabi Shallollohu ‘Alaihi wa Sallam)

  18. Di bulan yang baik ini, berkaca diri.. melihat kepada kaum lain yg papa memang bisa mengingatkan kita untuk terus mengucap syukur dan semoga dpt melakukan sesuatu untuk mereka.

    Tapi alagkah baiknya jika introspeksi tersebut dilakukan sesering mungkin :0
    bukan hanya puasa ya Ra.. aiiih indahnya dunia jika begitu

  19. Rizal says:

    Mungkin perlu ya Pak RW yang seperti di sinetron PPT 3 tuh… yang membuat peraturan… sebelum kita makan, harus tanya tetangga kanan kiri dulu… apakah mereka sudah makan?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s