Kau yang telah pergi

Hatiku telah jatuh berkeping, semua hancur luluh lantak, terbelah-belah tak lagi berbentuk. Berserakan dimana-mana. Aku sudah seperti air, dimana ada lembah, disitulah aku mendiam. Aku ingin seperti embun, menyejukkan di pagi hari. Menyentuh daun dikala subuh merentang matahari, meskipun sesudah itu akan pergi. Apa kau mengerti?

Entah dari dunia yang mana aku bisa mengakhiri semua ini. Dalam maya yang semu tak menentu. Semua jadi menjemu. Karena jiwa sayu. Atau aku akan layu terhalang semua pintu. Kini tulang belulangmu beterbangan ringan seperti buih, dan akhirnya kau telah terbebas.

Masih ingatkah kau di suatu malam, di padang rumput yang luas, Kau belajar berlari, kemudian kau jatuh. Tapi kau tidak merasa putus asa, kau berusaha bangkit lagi, dan berlari lagi. Tapi tubuh ringkihmu tak kuasa menopang terpaan angin senja yang menderu. Kau tak pernah putus asa, hingga nafasmu tak terasa. Tubuhmu tenggelam dalam birunya langit yang mulai menghitam.

Tak bisa lagi kau menyulam langit dengan kepingan-kepingan asa pilumu itu. Kini aku harus mengenangmu sendiri, mengikat sepiku pada langit-langit malam, karena kau tak mungkin lagi datang. Kenapa kau begitu cepat pergi? Sementara mataku basah dan nyeri. Kau tak lagi peduli.

Aku hanya bisa melihat hitam bayangmu di tepi malam. Atau ilusi yang datang karena intuisi. Hanya penat, lekat, menjerat pikiranku yang kuyu. Semua berisi tentangmu. Senyummu menempel pada dinding kamarku, suaramu terngiang jelas pada dinding telingaku. Tawa kerasmu berkumandang melewatiku. Nasehat-nasehatmu, meskipun kau tak bisa menasehati diri sendiri. Semua tentangmu berlari-lari mengacaukan pikiranku. Terkadang hatiku terasa pekat, bagai telaga es hitam. Hingga tak terlihat.

Masih lekat di benakku, saat kau bilang “kita adalah saudara sampai mati”, inikah maksudmu? Kemudian kau juga bilang kalau kau rindu pulang. Apa ini yang kau rindui? Ada gelombang asin hangat yang telah menarikmu hingga tenggelam, melayang menembus kegelapan.

Kau tak pernah hiraukan nasehat, mungkin kau sedang penat, hingga kau gunakan barang laknat. Tanganmu tangan gunung berapi, menggelegak penuh bahaya menanti. Hingga semua ini bisa terjadi, meskipun sudah lama kau lalui. Tapi nasi telah menjadi bubur. Tubuhmu telah layu, seperti dahan kering. Dan semuanya kini telah berakhir. Kau telah terbebas, teriakan terakhirmu menggantung di udara bagai sarang laba-laba yang putus. Dan aku harus tersambar suatu kesedihan yang lebih mendalam dari yang kukira.

Masih ingatkah kau saat aku tak bisa tidur? Kau bilang “taruhlah pisau di bawah kasurmu, kamu akan tertidur tanpa mimpi buruk” , kemudian aku mengikutin saranmu. Aku menaruh pisau kecil di bawah sepreiku, sehingga benjolan kecil yang ditimbulkan gagang pisau persis di bawah belikatku membuat tidurku semakin tidak nyaman. Dan ketika aku ceritakan padamu, kau malah menertawakan aku. Lalu kau bilang, “maksudku, kalau ada orang yang hendak berbuat jahat, kamu bisa ambil pisau itu untuk berjaga-jaga”, sungguh bodohnya aku.

Masih ingatkah kau kala kita berada di Merbabu. Kau teriak dengan suaramu yang serak

“Tidur kalong, tidur kalong!!!!”

Kau berlari menghampiri setiap tenda, kemudian kami semua berebut tali. Dan itu pertama kalinya aku tidur menggantung dengan tali. Masih ingatkah kau, saat kau tampar pipiku agar aku tetap terjaga, meskipun aku sudah mati rasa. Lalu kau begitu panik melihatku pucat membiru. Kau berusaha selamatkan aku. Masih ingatkah kau saat kita beradu cepat mengisi Taka Teki Silang? Kau selalu kalah cepat denganku, hingga kau harus memberi hadiah buatku. Masih banyak sekali hal-hal yang lucu yang pernah kita lalui. Kau adalah saudara, sahabat, ayah, dan pelindung yang baik bagi kami. Tapi mengapa kau begitu cepat pergi?

Kini wajahmu menari-nari di udara yang tajam, dan saat malam jatuh bagai jaring, gelombang kesedihan yang dahsyat menyelimutiku. Hari-hari yang kita lalui bersama adalah pelajaran berharga yang harus aku petik hikmahnya. Aku mendorong kembali pikiranku tentangmu ke dalam kegelapan yang membiakkanmu, namun aku tahu bahwa “tidak tampak bukan berarti sudah pergi”. Kau akan selalu ada di hati kami, selamanya…

Selamat jalan kak…., terima kasih kau telah menyayangi kami layaknya adik kandungmu sendiri, aku akan mendoakanmu selalu, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan memberikan tempat terbaik buatmu….Amin…

This entry was posted in Kehidupan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Kau yang telah pergi

  1. ga says:

    slmat jalan..
    smoga kau juga bisa merindukan rindunya seorang sahabat yang selalu menunggumu dsni..
    smangat trus rara….

  2. AtA chan says:


    Orang yang kita sayangi pergi untuk menetap di hati Ra..
    Dan akan tinggal di ingatan selamanya..
    ..

  3. zulhaq says:

    terasa banget, betapa sedihnya kepergian seseorang yang sudah deket banget dengan kita…

    tapi, gak ada yang bisa kita lakukan, selain mengirimkan doa yang terbaik untuk-NYA.

    semua yang di ciptakan-NYA akan kembali pula pada-NYA

  4. arif pribadi dukung kpk says:

    tersadar kembali ternyata seseorang begitu berarti ketika dia telah pergi meninggalkan kita

  5. Yessi says:

    sesungguhnya mereka tetap di hati
    walau hadirnya sudah tak nyata
    tapi di hati mereka tetap ada..selamanya🙂

    be strong ya!🙂
    aku mengerti perasaanmu..

  6. Afdhal says:

    wah kata2nya…
    dalemmm bangetttt

  7. yos says:

    yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah mendoakanya…

  8. Hariez says:

    ternyata habis kehilangan seseornag yang sangat berharga juga ya Ra ?😥 semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT ya Amien..
    trim’s juga Ra udah mampir

    -salam-

  9. ini aku says:

    Yang belum pernah kita katakan..semogha “dia” nya kita mendengar setiap jeritan kita dalam katakata kita yang walau belum sempat kita ucapkan..*peluk dek desya*

  10. Racheedus says:

    Selamat jalan kawan. Kau telah melewati fase hidupmu di dunia. Segala yang telah terjadi, biarlah Ia yang menghakimi.

  11. RenXe says:

    ra? siapa yang meninggal?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s